BUDI
UTOMO
Disusun
guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pergerakan Nasional
Dosen
Pengampu :
Insan
Fahmi Siregar
Oleh:
Nama : Retno Yuni
Dewanti
NIM : 3111412018
Rombel : Ilmu Sejarah
JURUSAN
SEJARAH
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2014
PENDAHULUAN
Timbulnya
pergerakan nasional tidak bisa dipisahkan dari bangkitnya nasionalisme di Asia,
yang dianggap reaksi terhadap Imprealisme (penjajahan). Bangkitnya nasionalisme
di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari bangkitnya nasionalisme di Asia. Kegagalan
perlawanan bersenjata oleh beberapa pejuang telah menyadarkan pemimpin-pemimpin
Bangsa pada waktu itu untuk merubah taktik dan cara-cara perlawanan.
Penderitaan lahir batin yang tak tertahankan lagi ditambah pengaruh
kejadian-kejadian didalam maupun diluar tanah air yang merupakan dorongan yang
mempercepat lahirnya pergerakan nasional dan titik berangkat lahirnya Budi
Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 sebagai organisasi pelajar guna memajukan
kepentingan-kepentingan priyayi rendah, dimana jangkauan geraknya terbatas pada
penduduk Pulau Jawa dan Madura (Ricklefs, 1998: 249). Berdirinya organisasi
Budi Utomo dipelopori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan mendapat persetujuan
dari pelajar-pelajar STOVIA seperti Sutomo, Gunawan, Gumbreg, dan lain-lainnya dimana
organisasi Budi Utomo ini bertujuan untuk membantu beasiswa kepada
pelajar-pelajar Bumi Putera (Kansil dan Julianto, 1990. 15-22). Melalui makalah
ini kita dapat mengetahui bagaimana sejarah perkembangan Budi Utomo sebagai
organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia.
ISI
A. Sejarah
dan Perkembangan Budi Utomo
Budi
Utomo merupakan sebuah organisasi modern pertama kali di Indonesia yang
didirikan oleh dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Menurut beberapa sarjana,
perkataan Budi Utomo berasal dari kata Sansekerta, yaitu bodhi atau budhi,
berarti “keterbukaan jiwa”,”pikiran”,” kesadaran”, “akal”, atau “pengadilan”.
Tetapi juga bisa berarti “daya untuk
membentuk dan menjunjung konsepsi dan ide-ide umum”. Sementara itu, perkataan
Jawa utomo berasal dari uttama, yang dalam bahasa Sansekerta berarti “ tingkat
pertama” atau “ sangat baik”( Gonda dalam Akira Nagazumi, 1989: 58).
Dr.
Wahidin Sudirohusodo (1857-1917) merupakan pembangkit semangat organisasi Budi
Utomo. Sebagai lulusan sekolah dokter Jawa di Weltvreden (sesudah tahun 1900
dinamakan STOVIA), ia merupakan salah satu tokoh intelektual yang berusaha
memperjuangkan nasib bangsanya. Pada tahun 1901 Dr. Wahidin Sudirohusodo
menjadi direktur majalah Retnodhoemilah (Ratna yang berkilauan) yang
diterbitkan dalam bahasa Jawa dan Melayu, yang dikhususkan untuk kalangan
priyayi. Hal ini mencerminkan perhatian seorang priyayi terhadap
masalah-masalah dan status golongan priyayi itu sendiri. Ia juga berusaha
memperbaiki masyarakat Jawa melalui pendidikan Barat (Ricklefs, 1991: 248-
249). Namun tidak semua golongan priyayi mendukung berdirinya Budi Utomo
tersebut. Hal ini disebabkan kaum priyayi birokrasi dari golongan ningrat atau
aristikrat mengadakan reaksi jika gerakan tersebut mengancam kedudukan kaum
aristokrasi yang menginginkan situasi status quo, yaitu keadaan yang dapat
menjamin kepentingan mereka (Sartono Kartodirdjo, 1993:102). Gerakan kaum
terpelajar tersebut akan membawa perubahan dalam struktur sosial sehingga kaum
intelektual akan mengurangi ruang lingkup kekuasaan elite birokrasi.
Program
utama dari Budi Utomo adalah mengusahakan perbaikan pendidikan dan pengajaran.
Programnya lebih bersifat sosial disebabkan saat itu belum dimungkinkan
didirikannya organisasi politik karena adanya aturan yang ketat dari pihak pemerintah Hindia
Belanda. Disamping itu, pemerintah Hindia Belanda sedang melaksanakan program
edukasi dari politik ethis sehingga terdapat kesesuaian kedua program (Kansil,
1986:22-23). Budi Utomo merupakan
organisasi pelajar dengan para pelajar STOVIA sebagai intinya dengan gerakan
awal jangkauannya hanya terbatas pada Jawa dan Madura. Jangkauan wilayah yang
terbatas ini, menjadikan Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang bersifat
kedaerahan, karena salah satu programnya berbunyi “ de harmonische ontwikkeling
van land en volk van Jawa en Madura”
(kemajuan yang harmonis bagi nusa Jawa dan Madura). Dengan demikian,
mencerminkan kesatuan administrasi kedua pulau tersebut yang mencakup juga
masyarakat Sunda yang kebudayaannya mempunyai kaitan dengan Jawa meski yang
dipakai sebagai bahasa resmi organisasi adalah bahasa Melayu (Ricklefs, 1991:249).
Pada
tanggal 5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan konggresnya yang pertama di Yogyakarta.
Konggres ini berhasil menetapkan tujuan organisasi yaitu ; Kemajuan yang
harmonis antara bangsa dan negara, terutama dalam memajukan pengajaran,
pertanian, peternakan dan dagang, tehnik , industri serta kebudayaan. Sebagai
ketua Pengurus Besar yang pertama terpilih R.T Tirtokusumo, bupati Karanganyar
sedangkan anggota-anggota Pengurus Besar pada umumnya pegawai pemerintahan atau
mantan pegawai pemerintahan dengan pusat organisasi berada di Yogyakarta
(Pringgodigdo, 1984:1). Pengurus hasil konggres ini merupakan dewan pimpinan
yang didominasi oleh para pejabat generasi tua yang mendukung pendidikan yang
semakin luas dikalangan priyayi dan mendorong pengusaha Jawa (Ricklefs, 1991:
250).
Setelah
cita-cita Budi Utomo mendapat dukungan semakin luas dikalangan cendekiawan Jawa
maka para pelajar tersebut memberi kesempatan kepada golongan tua untuk
memegang peranan yang lebih besar bagi gerakan ini. Ini dibuktikan dengan
terpilihnya golongan tua sebagai pengurus dalam konggres Budi Utomo I di
Yogyakarta. Ketua terpilih R.T Tirtokusumo, sebagai seorang bupati lebih
memperhatikan reaksi daro pemerintah kolonial Belanda dibanding reaksi dari
warga pribumi (Nugroho Notosusanto, 1975:182).
Sejak
tahun 1915 organisasi Budi Utomo bergerak di bidang politik. Gerakan
nasionalisme Budi Utomo yang berciri politik dilatari oleh berlangsungnya
Perang Dunia I. Peristiwa Perang Dunia I mendorong pemerintah kolonial Hindia -
Belanda memberlakukan milisi bumiputera,
yaitu wajib militer bagi warga pribumi. Dalam perjuangannya di bidang politik,
Budi Utomo memberi syarat untuk pemberlakuan wajib militer tersebut. Syarat
tersebut adalah harus dibentuk terlebih dahulu sebuah lembaga perwakilan rakyat
(volksraad). Usul Budi Utomo disetujui oleh Gubernur Jendral van Limburg Stirum
sehingga terbentuk Volksraad pada tanggal 18 Mei 1918. Di dalam lembaga
Volksraad terdapat perwakilan Budi Utomo, yaitu Suratmo Suryokusumo. Menyadari
arti pentingnya manfaat organisasi pergerakan bagi rakyat, maka pada tahun 1920
organisasi Budi Utomo membuka diri untuk menerima anggota baru dari kalangan
masyarakat biasa. Dengan bergabungnya masyarakat luas dalam organisasi Budi
Utomo, hal ini menjadikan organisasi tersebut berfungsi menjadi pergerakan
rakyat.
B. Berakhirnya
Budi Utomo
Runtuhnya
organisasi budi Utumo yaitu pada tahun 1935, hal ini di sebabkan karena adanya
tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial membuat Budi
Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok moderat dan
radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Pada tahun 1935 organisasi
ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Parindra (Suhartono, 2001 : 31).
Sejak saat itu Budi Utomo terus mundur dari arena politik dan kembali kekeadaan
sebelumnya. Dalam bukunya Pringgodigdo, 1998:2-3, menyebutkan bahwa keruntuhan
Budi Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan Indonesia yang
dilakukan Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier yang terdiri
dari Bangsa Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa. Banyak orang yang
memandang Budi Utomo lembek oleh karena menuju “kemajuan yang selaras buat
tanah air dan Bangsa” serta terlalu sempit keanggotaannya.
Berdirinya Muhamadyah merugikan Budi Utomo,
karena Budi Utomo tidak mencampuri agama. Jadi Budi Utomo kehilangan kedudukan
monopolinya yang menyebabkan timbulnya perkumpulan beraliran
Indisch-Nasionalisme Radikal yang beraliran demokratis dengan dasar agama dan
yang beraliran keinginan mengadakan pengajaran modern berdasarkan agama dan kebangsaan
diluar politik. Beranjak dipemerintahan kolonial menyebut Budi Utomo sebagai
tanda keberhasilan politik Etis dimana memang itu yang dikehendakinya, suatu
organisasi pribumi progresif-moderta serta dikendalikan oleh para pejabat.
Pejabat-pejabat Belanda lainnya mencurigai Budi Utomo atau menganggapnya
sebagai gangguan potensial. Desember 1909 Budi Utomo dinyatakan sebagai
organisasi sah. Adanya sambutan hangat dari Batavia menyebabkan banyak orang
Indonesia tidak puas dengan pemerintah yang mencurigai Budi Utomo itu.
Sepanjang sejarahnya (organisasi ini resmi dibubarkan pada tahun 1935)
sebenarnya Budi Utomo sering kali tampak sebagai partai pemerintah yang
seakan-akan resmi (Ricklefs, 2005 : 250-251).
KESIMPULAN
Budi
Utomo didirika pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Sutomo dan kawan-kawanya dari pelajar-pelajar
Stovia. Dimana anggota-anggota Budi Utomo adalah dari kalangan budaya priyayi.
Asas dan tujuan budi utomo adalah menyadarkan kedudukan Bangsa Jawa, Sunda, dan
Madura pada diri sendiri dan berusaha mempertinggi akan kemajuan mata pencaharian
serta penghidupan bangsa disertai dengan jalan memperdalam keseniaan dan
kebudayaan. Selain itu tujuannya yang lain adalah menjamin kehidupan sebagai
bangsa yang terhormat dengan menitik beratkan pada soal pendidikan, pengajaran,
dan kebudayaan.
Meskipun
pada masanya Budi utomo tidak memiliki pamor seterang organisasi-organisai
pergerakan nasional lain seperti SI atau Indische Partij, namun Budi Utomo
tetap memiliki andil yang besar dalam perjuangan pergerakan nasional karena
telah menjadi pelopor organisasi kebangsaan. Soewardi Suryaningrat menyatakan
bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut
soewardi, orang – orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa
“nasionalisme indonesia tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat
politik”. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera, Jawa,
Sulawesi maupun Maluku.
DAFTAR
PUSTAKA
Akira,
Nagazumi.1989. Bangkitnya Nassionalisme
Indonesia, Budi Utomo 1908-1918. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.
Nugroho Notosusanto.
1975. Sejarah Nasional Indonesia V.
Jakarta: Balai Pustaka
Priggodigdo. 1980. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia.
Jakarta : Dian Rakyat.
Kansil,
C.S.T. dan Julianto. 1988. Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta:
Gadjah Mada Press.
Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta
: Pustaka Pelajar.
