Sunset Mt. Merbabu

Sunset Mt. Merbabu

Selasa, 11 November 2014

Catatan Hati (Ku)

Rasa? Tidak ada yang salah tentang rasa, hanya saja terkadang seseorang salah menginterpretasikan sebuah rasa yang hinggap dihatinya. Terkadang rasa itu biasa tetapi kita salah mengartikannya menjadi sebuah rasa yang luar biasa, rasa yang bisa disebut dengan cinta. Cinta itu anugerah iya anugerah dari Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang salah tentang cinta, hanya saja terkadang kita salah dalam menempatkannya. Ada dua jenis cinta di dunia ini. Pertama, cinta yang menemani kita berkembang menjadi manusia dewasa yang mengalami berbagai macam bentuk pendewasaan diri dan kematengan emosi. Dan kedua, cinta yang melengkapi hidup kita dalam menghadapi bahtera kehidupan yang sesungguhnya.
Ada beberapa orang yang hadir dalam cinta kategori “pertama” dalam kehidupanku. Lebih tepatnya ada tiga orang yang benar-benar membuat ku belajar tentang banyak hal dan mendewasakan diriku dalam hidup ini. Dari tiga orang itu, satu orang terungkapkan walaupun berakhir dengan tidak mengenakkan. Akan tetapi itu cukup memberiku banyak arti dan pelajaran bahwa cinta memang tak selamanya berakhir dengan kebahagiaan. Butuh waktu lama bagi ku untuk melupakan orang ini. Bahkan sampai 3 tahun berselang baru aku merasakan lagi apa itu cinta.
Sayangnya cinta kedua ini tertahan tidak pernah ada pengungkapan bahkan menyakitkan pada awalnya. Aku jatuh cinta dengan sosok yang begitu dewasa dan berwibawa. Berjiwa kepemimpinan dan bijaksana walau terkadang masih awam dalam urusan cinta. Dia bagai “Oase” di dalam kehidupanku. Tetapi ternyata dia mencintai seseorang yang dekat dengan ku. Seseorang yang aku anggap adekku sendiri. Senja itu mulai menghilang perlahan dan rasa sakit itu kembali datang. Aku mulai melupakannya dan membiasakan diriku dengan cerita-cerita tentang “dia yang dia cinta” dari bibir manisnya. Itu tidak berakhir dengan buruk itu menjadi awal bagi semuanya. Dia tidak pernah tau tentang rasa itu dan aku pun sudah melupakannya.  Dia menjadi teman, sahabat, dan pemimpin yang baik bagi ku. Kita bersahabat, iya kita bersahabat sampai sekarang. Banyak hal, ilmu, dan pelajaran hidup yang bisa aku dapatkan dari dia. Terimakasih telah berperan penting dalam hidupku.

Senja itu kembali datang dan awan kabut mulai menghilang dari hati ku. Aku merasakan lagi cinta itu pada sosok yang berbeda dengan kedua orang tadi. Dia, sosok yang tidak pernah bisa ku tebak kepribadiannya. Aku telah mengenalnya lama, dari akhir semester satu. Kita berteman dan menjadi sahabat sampai sekarang. Dia membuat ku nyaman berada disisinya. Dia datang dengan membawa kehangatan yang berbeda. Sosok yang dewasa, berprinsip, sederhana dan itu semua dia kemas menjadi pribadi yang humoris dan terkesan “slengek’an”. Aku jatuh cinta, iya aku jatuh cinta kepadanya. Tetapi lagi-lagi cinta ini tertahan tidak ada keberanian untuk mengungkapkan. Dia mengetahui tentang orang kedua dalam cinta “pertama” ku tetapi dia tidak tau tentang rasa ini. Rasa yang semakin hari semakin kuat. Rasa yang kucoba sekuat tenaga untuk menutupinya.  Rasa yang membuatku takut kehilangan dia sebagai seorang sahabat. Aku tidak memilikinya tetapi aku takut kehilangan dia. Aku hanya bisa bertahan, ntah sampai kapan aku juga tidak tau. Hanya ada satu keyakinan dalam hidup ku “kalo memang jodoh tidak akan pernah lari kemana” dan aku harap dia menjadi cinta kategori “kedua” dalam kehidupanku. Cinta yang melengkapi hidupku sampai nanti sampai akhir hayat ini.