Rasa?
Tidak ada yang salah tentang rasa, hanya saja terkadang seseorang salah
menginterpretasikan sebuah rasa yang hinggap dihatinya. Terkadang rasa itu
biasa tetapi kita salah mengartikannya menjadi sebuah rasa yang luar biasa,
rasa yang bisa disebut dengan cinta. Cinta itu anugerah iya anugerah dari Yang
Maha Kuasa. Tidak ada yang salah tentang cinta, hanya saja terkadang kita salah
dalam menempatkannya. Ada dua jenis cinta di dunia ini. Pertama, cinta yang menemani kita berkembang menjadi manusia dewasa
yang mengalami berbagai macam bentuk pendewasaan diri dan kematengan emosi. Dan
kedua, cinta yang melengkapi hidup
kita dalam menghadapi bahtera kehidupan yang sesungguhnya.
Ada
beberapa orang yang hadir dalam cinta kategori “pertama” dalam kehidupanku. Lebih tepatnya ada tiga orang yang
benar-benar membuat ku belajar tentang banyak hal dan mendewasakan diriku dalam
hidup ini. Dari tiga orang itu, satu orang terungkapkan walaupun berakhir
dengan tidak mengenakkan. Akan tetapi itu cukup memberiku banyak arti dan
pelajaran bahwa cinta memang tak selamanya berakhir dengan kebahagiaan. Butuh
waktu lama bagi ku untuk melupakan orang ini. Bahkan sampai 3 tahun berselang
baru aku merasakan lagi apa itu cinta.
Sayangnya
cinta kedua ini tertahan tidak pernah ada pengungkapan bahkan menyakitkan pada
awalnya. Aku jatuh cinta dengan sosok yang begitu dewasa dan berwibawa. Berjiwa
kepemimpinan dan bijaksana walau terkadang masih awam dalam urusan cinta. Dia
bagai “Oase” di dalam kehidupanku. Tetapi
ternyata dia mencintai seseorang yang dekat dengan ku. Seseorang yang aku
anggap adekku sendiri. Senja itu mulai menghilang perlahan dan rasa sakit itu
kembali datang. Aku mulai melupakannya dan membiasakan diriku dengan
cerita-cerita tentang “dia yang dia cinta” dari bibir manisnya. Itu tidak
berakhir dengan buruk itu menjadi awal bagi semuanya. Dia tidak pernah tau
tentang rasa itu dan aku pun sudah melupakannya. Dia menjadi teman, sahabat, dan pemimpin yang
baik bagi ku. Kita bersahabat, iya kita bersahabat sampai sekarang. Banyak hal,
ilmu, dan pelajaran hidup yang bisa aku dapatkan dari dia. Terimakasih telah
berperan penting dalam hidupku.
Senja
itu kembali datang dan awan kabut mulai menghilang dari hati ku. Aku merasakan
lagi cinta itu pada sosok yang berbeda dengan kedua orang tadi. Dia, sosok yang
tidak pernah bisa ku tebak kepribadiannya. Aku telah mengenalnya lama, dari
akhir semester satu. Kita berteman dan menjadi sahabat sampai sekarang. Dia
membuat ku nyaman berada disisinya. Dia datang dengan membawa kehangatan yang
berbeda. Sosok yang dewasa, berprinsip, sederhana dan itu semua dia kemas
menjadi pribadi yang humoris dan terkesan “slengek’an”.
Aku jatuh cinta, iya aku jatuh cinta kepadanya. Tetapi lagi-lagi cinta ini
tertahan tidak ada keberanian untuk mengungkapkan. Dia mengetahui tentang orang
kedua dalam cinta “pertama” ku tetapi
dia tidak tau tentang rasa ini. Rasa yang semakin hari semakin kuat. Rasa yang
kucoba sekuat tenaga untuk menutupinya.
Rasa yang membuatku takut kehilangan dia sebagai seorang sahabat. Aku
tidak memilikinya tetapi aku takut kehilangan dia. Aku hanya bisa bertahan,
ntah sampai kapan aku juga tidak tau. Hanya ada satu keyakinan dalam hidup ku
“kalo memang jodoh tidak akan pernah lari kemana” dan aku harap dia menjadi
cinta kategori “kedua” dalam
kehidupanku. Cinta yang melengkapi hidupku sampai nanti sampai akhir hayat ini.