Sunset Mt. Merbabu

Sunset Mt. Merbabu

Jumat, 12 Desember 2014

PERSAHABATAN BAGAI KEPOMPONG

Ini lirik lagu yang hemm, kayaknya cocok buat keadaan ku sekarang :3

Persahabatan Bagai Kepompong

dulu kita sahabat
teman begitu hangat
mengalahkan sinar mentari
dulu kita sahabat
berteman bagai ulat
berharap jadi kupu-kupu
* kini kita melangkah berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karna sesuatu
mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
namun itu karna ku sayang
reff:
persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
persahabatan bagai kepompong
hal yang tak mudah berubah jadi indah
persahabatan bagai kepompong
maklumi teman hadapi perbedaan
persahabatan bagai kepompong
na na na na na na na na na
semua yang berlalu
biarkanlah berlalu
seperti hangatnya mentari
siang berganti malam
sembunyikan sinarnya
hingga ia bersinar lagi
** dulu kita melangkah berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karna sesuatu
mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
namun itu karna ku sayang


Selasa, 11 November 2014

Catatan Hati (Ku)

Rasa? Tidak ada yang salah tentang rasa, hanya saja terkadang seseorang salah menginterpretasikan sebuah rasa yang hinggap dihatinya. Terkadang rasa itu biasa tetapi kita salah mengartikannya menjadi sebuah rasa yang luar biasa, rasa yang bisa disebut dengan cinta. Cinta itu anugerah iya anugerah dari Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang salah tentang cinta, hanya saja terkadang kita salah dalam menempatkannya. Ada dua jenis cinta di dunia ini. Pertama, cinta yang menemani kita berkembang menjadi manusia dewasa yang mengalami berbagai macam bentuk pendewasaan diri dan kematengan emosi. Dan kedua, cinta yang melengkapi hidup kita dalam menghadapi bahtera kehidupan yang sesungguhnya.
Ada beberapa orang yang hadir dalam cinta kategori “pertama” dalam kehidupanku. Lebih tepatnya ada tiga orang yang benar-benar membuat ku belajar tentang banyak hal dan mendewasakan diriku dalam hidup ini. Dari tiga orang itu, satu orang terungkapkan walaupun berakhir dengan tidak mengenakkan. Akan tetapi itu cukup memberiku banyak arti dan pelajaran bahwa cinta memang tak selamanya berakhir dengan kebahagiaan. Butuh waktu lama bagi ku untuk melupakan orang ini. Bahkan sampai 3 tahun berselang baru aku merasakan lagi apa itu cinta.
Sayangnya cinta kedua ini tertahan tidak pernah ada pengungkapan bahkan menyakitkan pada awalnya. Aku jatuh cinta dengan sosok yang begitu dewasa dan berwibawa. Berjiwa kepemimpinan dan bijaksana walau terkadang masih awam dalam urusan cinta. Dia bagai “Oase” di dalam kehidupanku. Tetapi ternyata dia mencintai seseorang yang dekat dengan ku. Seseorang yang aku anggap adekku sendiri. Senja itu mulai menghilang perlahan dan rasa sakit itu kembali datang. Aku mulai melupakannya dan membiasakan diriku dengan cerita-cerita tentang “dia yang dia cinta” dari bibir manisnya. Itu tidak berakhir dengan buruk itu menjadi awal bagi semuanya. Dia tidak pernah tau tentang rasa itu dan aku pun sudah melupakannya.  Dia menjadi teman, sahabat, dan pemimpin yang baik bagi ku. Kita bersahabat, iya kita bersahabat sampai sekarang. Banyak hal, ilmu, dan pelajaran hidup yang bisa aku dapatkan dari dia. Terimakasih telah berperan penting dalam hidupku.

Senja itu kembali datang dan awan kabut mulai menghilang dari hati ku. Aku merasakan lagi cinta itu pada sosok yang berbeda dengan kedua orang tadi. Dia, sosok yang tidak pernah bisa ku tebak kepribadiannya. Aku telah mengenalnya lama, dari akhir semester satu. Kita berteman dan menjadi sahabat sampai sekarang. Dia membuat ku nyaman berada disisinya. Dia datang dengan membawa kehangatan yang berbeda. Sosok yang dewasa, berprinsip, sederhana dan itu semua dia kemas menjadi pribadi yang humoris dan terkesan “slengek’an”. Aku jatuh cinta, iya aku jatuh cinta kepadanya. Tetapi lagi-lagi cinta ini tertahan tidak ada keberanian untuk mengungkapkan. Dia mengetahui tentang orang kedua dalam cinta “pertama” ku tetapi dia tidak tau tentang rasa ini. Rasa yang semakin hari semakin kuat. Rasa yang kucoba sekuat tenaga untuk menutupinya.  Rasa yang membuatku takut kehilangan dia sebagai seorang sahabat. Aku tidak memilikinya tetapi aku takut kehilangan dia. Aku hanya bisa bertahan, ntah sampai kapan aku juga tidak tau. Hanya ada satu keyakinan dalam hidup ku “kalo memang jodoh tidak akan pernah lari kemana” dan aku harap dia menjadi cinta kategori “kedua” dalam kehidupanku. Cinta yang melengkapi hidupku sampai nanti sampai akhir hayat ini.

Kamis, 30 Oktober 2014

Surga Dibalik Benteng Alam, Eksotisme Pantai Menganti Kebumen

Tidak semua pantai dikelilingi oleh perbukitan hijau ataupun bukit karang yang muncul sebagai benteng alam, salah satunya terdapat di Pantai Menganti. Sebuah pantai indah dibalik perbukitan ini memang belum banyak diketahui oleh banyak orang. Keberadaannya yang tersembunyi dan sulitnya menjangkau tempat wisata ini menjadi sebab mengapa belum banyak orang mengetahui Pantai Menganti yang berada di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Pantai yang indah dan eksotis ini merupakan Surga tersembunyi di Kabupaten Kebumen. Tersembunyi, karena untuk menjangkau pantai ini rutenya memang tidak mudah. Pantai ini berjarak 7 kilometer dengan jalan mendaki dari Pantai Logending. Untuk mencapainya, kita bisa menggunakan sepeda motor ataupun mobil karena jalanannya sungguh mantap, mendaki dengan sudut-sudut yang lumayan ekstrim. Jalan menuju pantai ini sudah beraspal, jadi walau medannya agak susah, pantai ini masih tetap bisa dijangkau dibandingkan bertahun-tahun lalu saat kondisi jalannya belum beraspal.
View Pantai Menganti
Pantai Menganti memang tidak tergolong besar dan luas, karena dihimpit kanan, kiri serta belakang sebagai benteng alam berupa perbukitan. Namun disini lah letak keindahan yang dapat dirasakan saat mengunjungi Pantai Menganti. Perjalanan yang tidak mudah untuk mencapai Pantai Menganti akan tergantikan oleh keindahan pantai yang masih tergolong cukup alami. Dipinggiran bibir pantai kita bisa menikmati keindahan perbukitan batu kapur yang terlihat memanjang sepanjang pantai. Pasir putih yang terbuat secara alami oleh abrasi batu gamping bisa dijejaki dengan kaki-kaki telanjang menyusuri pantai, pohon-pohon kelapa disepanjang tepian pantai menjadikan Menganti sebagai objek wisata yang harus di kunjungi ketika kita memilih Jawa Tengah sebagai tujuan berwisata.
Keadaan Pantai Menganti yang tenang, sejuk dan masih alami ini cocok banget buat nyari inspirasi, ngilangin stress, hunting foto panorama laut, dan juga liburan bareng keluarga tercinta. Keindahan pantai ini berani diadu dengan cantiknya pantai-pantai di Bali. Gelombang ombak yang dahsyat bergelora dan berdebur menciumi batu-batu karang di sekeliling pantai semakin menambah eksotisme pantai ini. Jangan lupa, di pantai ini juga terdapat sebuah mercusuar. Dari atas bukit dimana mercusuar berada, kita akan disuguhkan hamparan pemandangan luas lautan samudra hindia yang menawan, Amazing ! Mirip hamparan padang rumput luas yang sangat luar biasa indah dihiasi oleh perbukitan yang menawan, bagi yang suka fotografi jangan ketinggalan kamera anda. Pantai Menganti masih menyimpan segudang potensi yang bisa dimaksimalkan, saat ini fasilitasnya masih terbatas. Kelestarian Menganti memang terlindungi berkat bukit-bukit kapur yang mengitarinya.
Deburan Ombak dan karang
Melewatkan senja kemerahan di bentangan pantai yang sangat indah ini sungguh menjadikan pengalaman jalan-jalan yang mengesankan. Kita bisa bermalam di sini dengan menyewa atau menginap di rumah penduduk setempat, selain itu kita juga bisa mendirikan tenda ditempat-tempat yang sudah disediakan. Daerah wisata ini memang masih perawan, belum banyak fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel atau penginapan, restoran, tempat makan, bahkan fasilitas MCK juga masih terbatas. Pantai Menganti sangat rekomended untuk dikunjungi, Kata bule-bule dari Nepal, pantai menganti sedikit mirip dengan pantai-pantai di Hawaii, Bagi yang belum kesampaian ke hawaii tak ada salahnya untuk mengunjungi pantai indah ini. So, don’t miss it guys !
Sunrise Pantai Menganti

Rabu, 29 Oktober 2014

Syahdu, Air Mata Itu Akhirnya Tertitihkan..

Ungaran 26 Oktober 2014

Hembusan Angin kencang mulai menerpa tubuh ini yang mulai kelelahan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku dan 2 orang temen ku mulai berjalan turun dari puncak ungaran menuju promasan. Kita ngga cuma bertiga, kita ikut dalam rombongan dari organisasi kampus yang aku ikuti. Tetapi mereka sudah jalan duluan, aku memang sengaja jalan di kloter terakhir bukan karna apa-apa tetapi karna fisik ku lah yang memaksaku  untuk jalan terakhir, hanya orang-orang tertentu yang dapat memahami fisikku ini. Kita mulai jalan pelan-pelan tadinya kita berempat, tetapi teman ku yang satu ini jalan duluan mungkin ada alasan tertentu kenapa dia jalan duluan, ahh sudahlah lupakan. Akhirnya kita hanya benar-benar bertiga, tetapi ditengah jalan kita berjumpa dengan 2 orang pasangan yang juga merupakan bagian dari rombonganku. Alhasil kita jalan berlima, dan 4 orang teman ku ini adalah pasangan-pasangan dan aku sendirian, tapi itu bukan masalah yang berarti kita tetap bisa menyatu.
Perjalanan dilanjutkan, angin mulai bertiup semakin kencang dan kedua pasangan ini semakin romantis didepan ku, hemm tak apalah pikirku. Kita jalan lagi pelan-pelan, karna sudah terlalu lelah, kita memutuskan untuk istirahat dan aku duduk diatas sebuah batu, saat duduk diatas batu itu aku bisa melihat pemandangan luas dibawah kaki gunung ungaran, dan angin lembut mulai menerpa kerudung dan pipi ku, saat itulah aku memikirkan seseorang, seseorang yang ada dihati ku seseorang yang sanggup merubah arah pemikiranku, saat itu juga semua yang tertahan memuncak dan semua yang tidak terungkapkan menjelma menjadi titik-titik air mata yang tertitihkan, aku menangis dan terus menangis keempat temanku bertanya-tanya keheranan kenapa aku menangis, tetapi aku tidak bisa menjawabnya aku hanya bisa menangis dan diam, Ya Alloh aku lelah menahan semua ini, aku lelah suka dengan seseorang yang itu temen ku sendiri, aku lelah dengan sifat cemburu ku yang tidak beralasan, aku lelah dengan semua bullian mereka yang semakin membuat jarak antara aku dan kamu, aku lelah menerka-nerka perasaan mu terhadapku. Saat itu juga aku ingin berteriak bahwa aku menginginkan mu, aku ingin bersama mu, aku ingin tersenyum dengan mu, aku ingin disamping mu, seperti mereka , iya seperti mereka, tetapi sepertinya itu tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin untuk saat ini. Aku tau prinsip mu, aku tau karakter mu dan aku tau sifatmu, mungkin ini konyol dan bodoh persahabatan yang sudah lama terjalin harus ada celah didalamnya karna rasa cinta yang tiba-tiba muncul hanya karna perhatian mu yang biasa tetapi aku anggap lebih, ya aku salah dan memang salah, maaf aku hanya ingin minta maaf, aku hanya ini kembali seperti dulu persahabatan seperti dulu yang terdapat canda tawa didalmnya.

Aku hapus airmata ku, aku coba tata kembali hati ini, aku mencoba tersenyum dan berdoa didalam hati yahh kalau memang kita berjodoh kita akan bersama nanti, suatu saat akan dipertemukan kembali dan dimudahkan jalannya, hanya butuh sabar dan juga menjaga diri ya hanya itu saja (Aku hanya bisa berkata dalam doa semoga kita berjodoh). Aku mulai berdiri, dan perjalanan turun muali dilanjutkan kembali, masih banyak halangan didepan sana yang menanti kita turun untuk sampai di promasan, sama seperti perjalanan hidupku, banyak halang rintang yang akan menghadang untuk mencapai impian ku terwujud dan semoga aku bisa menghadapi itu semua (Amin). Sepanjang perjalanan turun aku hanya memikirkan satu hal, “sampai kapan” rasa ini bertahan dan tertahan? Ntah lah aku juga tidak tau....

Selasa, 21 Oktober 2014

Cemburu Boleh ?

      perasaan ini udah lama aku rasain, ntah aku juga heran kenapa bisa ngrasain ini. Rasa yang sebagian orang menyebutnya sebagai perasaan cemburu. Kalo cemburu sama pacar sendiri sih wajar aja ya, tapi kalo cemburu sama yang bukan siapa-siapa ya kita gimana dong? pasti rasanya aneh, sakit, pengin marah, tapi sama siapa? aku aja kagak tau jawabannya. Iya itulah yang sedang aku rasain sekarang cemburu sama temen (adek sih) ku sendiri. Kamu tau aku cemburu kalo kamu deket dan perhatian sama temen ku yang satu ini, rasanya kagak rela kalo kamu kemana-mana bareng sama dia, kadang aku juga kagak rela kalo kamu nganterin dia pulang, walaupun kadang dimulut bilang ngga apa2 tapi dihati itu rasanya miris, rasanya pengin banget aku bilang aku pengin dianterin kamu pulang, tapi itu ngga mungkin, bahkan untuk nyapa kamu duluan aja aku kagak berani. Kalau temen ku kagak tau aku suka sama kamu sih, oke fine ! aku ngga apa2, tapi ini dia tau kalo aku suka, seenggaknya dia bisa ngertiin dong dan dia juga bisa sedikit aja nyediain tempat buat aku dan kamu walaupun itu cuma sebentar. Dia suka ngebully aku dan kamu supaya bisa cepat menyatu, tapi disisi lain dia selalu menyita waktumu untuk bisa bareng2 terus sama dia, hlahh terus aku bisa apa? iya emang aku ngga bisa berbuat apa2 aku hanya bisa diam, bahkan cemburuku pun hanya dalam diam. Aku udah lama nahan rasa ini terkadang rasaya ngga sanggup kalo harus ditutupin lagi, tapi ya sudahlah mungkin ini akibatnya karna aku mencintaimu secara diam-diam.

Sabtu, 18 Oktober 2014

About Me

20 Fact About Me :


1. Nama saya Retno Yuni Dewanti

2. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara :D

3. Suka sama cokelat dan es krim

4. Saya itu anaknya kadang suka heboh sendiri atau biasa disebut Suheri

5. Orangnya moodyan banget, satu hari bisa gonta ganti mood

6. Dari dulu suka anime

7. Ngga terlalu peka sama diri sendiri, lagi berusaha mengerti apa itu "peka"

8. Paling ngga suka sama orang yang nyebelin dan suka ngomongin gue dibelakang

9. Kalo lagi mood buruk saya berubah jadi pendiem kalo ngga larinya ke makanan.

10. Lebih sering terkena Cidaha haha :)

11. Kalau ngga suka sama orang ngga bisa bersikap ekstrovet, pasti berusaha baik didepannya.

12. Saya cocok sama orang yang paham dan menjalankan tanggung jawabnya.

13. Sering banget bikin status2 di sosmed yang ngga jelas (biasanya sih pelarian, hehe)

14. Kadang masih dibilang labil (bahkan ada yang bilang labil banget)

15. Saya itu mudah menyimpulkan sesuatu hal, makanya masih harus belajar dari orang2 disekitar ku agar bisa menyimpulkan dari segala sisi.

16. Saya penasaran sama orang yang ngga bisa ditebak kepribadiannya.

17. Saya itu orangnya sensitif banget

18. Terkadang lebih mikiran orang lain daripada mikirin diri sendiri

19. Kalo udah badmood semua orang bisa kena imbasnya

20. Takut kehilangan orang dan dibenci sama orang



Itulah sebagian fakta tentang diriku, belum semuanya sih cuma 20 fakta aja hehe. Ada tambahan juga dari seseorang katanya disuruh bangun pagi supaya matanya ngga sembab :)

Sekian dan Terimakasih :)

Sabtu, 11 Oktober 2014

Laporan Kajian Peninggalan Sejarah II Rombel Ilmu Sejarah 2012


 






TROLOYO : BUKTI PENINGGALAN ISLAM DI KERAJAAN MAJAPAHIT


LAPORAN KAJIAN PENINGGALAN SEJARAH II






Oleh
Mahasiswa Program Sudi Pendidikan Sejarah
Angkatan 2012, Rombel E





JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
201
4




PRAKATA
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini, bantuan dorongan serta bimbingannya. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1.      Kedua Orang Tua kami tercinta. Doa restu, nasihat dan petunjuk dari mereka merupakan dorongan moril yang paling berarti bagi penulis.
2.      Bapak Dr. Subagyo, M.pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
3.      Bapak Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd. selaku Ketua Jurusan Sejarah.
4.      Bapak Dr. Hamdan Tri Atmaja. M.Pd selaku dosen Pembimbing laporan kerja lapangan ini.
5.      Kawan-kawan Seperjuangan Jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2012.
6.      Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah berjasa dalam penyusunan laporan ini semoga Allah yang Maha Pengasih membalas kebaikan mereka.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua urusan dan mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis dan para pembaca pada umumnya, semoga Allah selalu meridhoi dan di catat sebagai amal ibadah disisinya.

                                                                                                           Semarang, Juni 2014

                                                                                                                          Penyusun


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, yang selalu memberikan limpahan berkat dan rahmat-Nya sehingga laporan KPS ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima kasih atas dukungan dosen pembimbing, bantuan dan semangat yang selalu diberikan kepada kami sehingga laporan KPS ini dapat diselesaikan dengan baik oleh kami.
Seperti kata pepatah bahwa tak ada gading yang tak retak, maka kami mohon maaf apabila ada kekurangan pada laporan KPS ini. Dan kami juga mengharapkan kritik yang membangun dalam penyempurnaan laporan KPS ini. Semoga laporan ini dapat menjadi acuan untuk pembuatan laporan hasil KPS berikutnya serta dapat menambah pengetahuan baru bagi siapa pun yang membacanya. Amin.


Semarang, Juni 2014

Penyusun
 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kabupaten Mojokerto memiliki potensi wisata dan budaya yang sangat besar, dengan kebesaran nama Kerajaan Majapahit yang termasyur mewariskan nilai budaya yang cukup tinggi, serta banyak pula peninggalan situs-situs, candi-candi dan petilasan Kerajaan dizaman Majapahit seperti, kolam segaran, candi bajang ratu, candi brangkal, candi jebong, candi lurah, candi minak jinggo, candi wringin, candi tikus, sumur upas dan lain-lain. Dari puluhan situs yang ada di Kabupaten Mojokerto, ada situs Makam Troloyo. Situs ini letaknya di kompleks pemakaman Islam zaman kerajaan Majapahit di Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap kehidupan beragama dan kepercayaan masyarakatnya, hal ini terbukti dengan adanya sebuah pemakaman islam yang terdapat di dalam wilayah lingkungan Kerajaan Majapahit yang sekarang dikenal dengan nama situs makam Troloyo. Situs ini letaknya tidak jauh dari situs Candi Kedaton dan situs Lantai Segi Enam. Islam adalah agama baru bagi masyarakat Majapahit akan tetapi sebagai unsur kebudayaan, islam telah diterima secara baik ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
Situs makam Troloyo terkenal sebagai tempat wisata religius semenjak masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, saat mengadakan kunjungan ziarah ke tempat tersebut. Sejak saat itu, tempat ini banyak dikunjungi peziarah baik dari Trowulan maupun dari daerah lain, bahkan dari luar Jawa Timur. Saat ini komplek makam troloyo telah dibangun sedemikian rupa (dilakukan pemugaran) sehingga menghilangkan ciri khas aslinya sebagai suatu situs peninggalan purbakala dari jaman kerajaan Majapahit.
 Situs Troloyo merupakan salah satu bukti keberadaan komunitas muslim pada masa Majapahit. Situs ini terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kepurbakalaan yang ada di Troloyo adalah berupa makam Islam kuna yang berasal dari masa Majapahit. Adanya makam kuna ini merupakan bukti adanya komunitas muslim di wilayah ibukota Majapahit. Adanya komunitas muslim ini disebutkan pula oleh Ma-Huan dalam bukunya Ying Yai - Sing Lan, yang ditulis pada tahun 1416 M. Dalam buku The Malay Annals of Semarang and Cherbon yang diterjemahkan oleh HJE. de Graaf disebutkan bahwa utusan-utusan Cina dari Dinasti Ming pada abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan muslim. Sebelum sampai di Majapahit, muslim Cina yang bermahzab Hanafi membentuk masyarakat muslim di Kukang (Palembang), barulah kemudian mereka bermukim di tempat lain termasuk wilayah kerajaan Majapahit.
Melihat kenyataan diatas tampaknya komplek makam Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sangat menarik untuk dikaji, bukan saja karena berbagai keunikannya tetapi juga bagaimana makam Troloyo ini sebagai bukti adanya sebuah komunitas islam di Majapahit, dimana Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu.
B.     Fokus Kajian
Dalam laporan ini kami akan memfokuskan kajan tentang Sejarah Troloyo dan Penyebaran Islam di Majapahit, lingkup spasial meliputi makam Troloyo di Desa Sentonorejo dan temporal meliputi sejarah keberadaan makam Troloyo.

C.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana sejarah keberadaan makam Troloyo?
2.      Bagaimana proses islamisasi di Majapahit?
3.      Siapakah tokoh-tokoh yang dimakamkan di makam Troloyo tersebut?

D.    Tujuan Kajian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dipaparkan di atas, maka tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui bagaimana sejarah keberadaan makam Troloyo.
2.      Mengetahui bagaimana proses islamisasi di Majapahit.
3.      Mengetahui siapa tokoh-tokoh yang dimakamkan di pemakaman Troloyo.

E.     Manfaat kajian
Manfaat Teoretis : Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami sejarah keberadaan makam Troloyo, proses islam atau islamisasi di kawasan kerajaan Majapahit, dan siapa tokoh-tokoh yang dimakamkan di pemakaman Troloyo. Manfaat Empiris : Melalui pengetahuan tentang sejarah keberadaan Troloyo, proses penyebaran islam atau islamisasi di kawasan kerajaan Majapahit, dan siapa tokoh-tokoh yang dimakamkan di pemakaman Troloyo. Diharapkan mahasiswa mampu menularkan kepada masyarakat umum agar mengetahui jejak-jejak islam dalam kehidupan masyarakat Hindu pada akhir kerajaan Majapahit.
F.      Metode Kajian
Dalam kajian ini kami memakai teknik pengumpulan data dengan cara observasi, dan wawancara. Observasi dilakukan saat berada di lokasi, observasi dilakukan berdasarkan pengamatan yang ada di sekitar Makam Troloyo. Wawancara dilakukan kepada narasumber yang ada di tempat observasi. Selain itu kami juga memakai teknik pengumpulan data dengan cara kajian dokumen, berupa buku-buku sumber, penelitian dan hasil di lapangan.





BAB II
GAMBARAN UMUM OBJEK KAJIAN

Makam Troloyo atau Tralaya adalah sebuah komplek pemakaman yang terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Tepatnya sekitar 15 km di sebelah barat kota Mojokerto. Komplek pemakaman Tralaya merupakan komplek pemakaman Islam Kuno di Kota Kerajaan Majapahit. Makam ini merupakan komplek makam peninggalan Kerajaan Majapahit yang dijadikan tempat peristirahatan terakhir bagi kaum pedagang muslim yang singgah di Majapahit untuk berdagang sekaligus mensyiarkan agama Islam.
Komplek makam Islam troloyo menempati areal tanah seluas kurang lebih dua  Ha. Secara keseluruhan komplek makam Troloyo dapat di generalisasikan dalam dua bagian yaitu sebelah barat ( belakang masjid ) dan sebelah Timur ( depan Masjid ). Adapun yang memebelah komplek makam Troloyo tersebut adalah bangunana masjid dan beberapa bangunan perumahan penduduk yang relative masih tergolong bangunan baru atau mungkin juga karena tiadanya corak khusus yang memberikan nilai sejarah. Jadi, dapat di tangkap secara sederhana menunjukkan bahwa komplek makam Islam Troloyo lebih mencerminkan sebagai kuburan atau komplek pemakaman Islam biasa dan bersifat umum dari pada suatu komplek pemakaman islam yang mencirikan nilai histories, utamanya sejarah perkembangan Islam di Jawa.
Kompleks Makam Troloyo terdiri dari beberapa bagian. Makam utama yang berada di kompleks ini adalah makam Syekh Maulana Sayyid Jumadil Qubro. Selain itu juga terdapat makam lainnya, yakni makam Tumenggung Satim Singomoyo di sisi kiri, Nyi Endang Roro Kepyur (penari), Tumenggung Patas Angin, Kencono Wungu, Anjasmoro, dan Senopati Sunan Kudung. Selain itu juga terdapat Kubur Telu (makam tiga) yang terdiri dari: Syekh Abdul Qodir Jaelani Assyni, Syekh Maulana Sekhah, dan Syekh Maulana Ibrahim. Kemudian juga terdapat Kubur Pitu (makam tujuh. Sementara, ditengah-tengah kompleks tersebut, terdapat petilasan Wali Songo yang diyakini  sebagai tempat para pemuka agama mensyiarkan ajaran Islam.
Adapun bentuk bangunan makam – makam di komplek makam Troloyo satu sama lain memiliki kesamaan pada bentuk jirat maupun nisan yang berhiaskan huruf  Arab atau huruf Jawa. Adapun keistimewaan komplek makam Troloyo dengan makam – makam yang lain ialah hampir semua pintu masuk makam berada di sebelah selatan, kecuali pintu masuk makam Satim berada di sebelah barat. Sedangkan bentuk bangun pintu ada yang berwujud Paduraksa, seperti pintu masuk makam pintu Kenconowungu dan Anjasmoro, Kubur Pitu  serta patih patas angin, dan yang lain berbentuk biasa.
Seperti kebanyakan makam serta situs lain, Kompleks Makam Troloyo juga dibanjiri para peziarah. Para peziarah ini tak hanya berasal dari Kabupaten Mojokerto saja, melainkan juga berasal dari kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Timur, bahkan dari luar Pulau Jawa.












BAB III
SEJARAH KEBERADAAN MAKAM TROLOYO TROWULAN JAWA TIMUR
Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan besar di Indonesia pada masa lampau. Kerajaan ini mencapai puncak kebesaran dan keemasannya pada abad XIV, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Pada masa itu, kekuasaan dan kebesaran Kerajaan Majapahit sangat luas. Kerajaan ini memiliki pengaruh di seluruh Nusantara, bahkan terhadap negara-negara tetangganya di Asia Tenggara (Djafar, 2012 : 2). Sampai saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang dapat kita lihat sebagai tanda kebesaran Kerajaan Majapahit waktu itu, terutama di Kecamatan Trowulan yang dulu merupakan ibukota Kerajaan Majapahit, salah satu peninggalan sejarah yang menarik yaitu Makam Troloyo.
Makam Troloyo atau Tralaya adalah sebuah komplek pemakaman islam kuno yang terletak di kota kerajaan majapahit, berada di Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya sekitar 15 km di sebelah barat kota Mojokerto. Troloyo berasal dari kata Setra yang berarti rumput atau padang yang luas dan Pralaya yang berarti pemakaman, yang kemudian digabungkan menjadi Tralaya/Troloyo. Berkenaan dengan arti kata tersebut, Pak Didit seorang tour guide dari Museum Majapahit mengatakan sebagai berikut :
“Jadi disitu memang disebutkan dari kata Troloyo ini dari kata setra dan pralaya, jadi setra itu dari kata padang rumput yang luas, pralaya adalah pemakaman, jadi padang rumput yang luas digunakan untuk pemakaman” (wawancara, 21 Mei 2014).
Adanya pemakaman islam kuno ini merupakan bukti adanya komunitas muslim di wilayah ibukota Majapahit. Adanya komunitas muslim ini disebutkan pula oleh Ma-Huan dalam bukunya Ying Yai – Sing Lan, yang ditulis pada tahun 1416 M menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa. Dalam buku The Malay Annals of Semarang and Cherbon yang diterjemahkan oleh HJE. De Graaf disebutkan bahwa utusan-utusan Cina dari dinasti Ming pada abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan muslim. Sebelum sampai di majapahit, muslim cina bermahzab hanafi membentuk masyarakat muslim di Kukang (palembang), barulah kemudian mereka bermukim di tempat lain termasuk wilayah Kerajaan Majapahit (Noviyanti, 2013 : 585). Berdasarkan hasil wawancara kami dengan Bapak Didit juga menyebutkan bahwa komunitas islam di Majapahit bermahzab haniafi, beliau mengatakan sebagai berikut :
“Pada masa islam di Majapahit itu ada pada masa transisi, makanya yang islam yang masuk di ibukota majapahit itu lebih banyak bermahzab hanafi, jadi mahzab hanafi mempermudah, yang pertama jika mereka tidak tau arah kiblat mau sholat mau hadap kemanapun boleh yang kedua dalam penulisan jirat lafalnya kalo ada kesalahan tidak apa-apa” (wawancara, 21 Mei 2014).
Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi). Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.
P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873. Selanjutnya peneliti dari Perancis, LC. Damais juga meneliti kawasan ini, dengan hasil yang dibukukan dengan judul “Etudes Javanaises I. Les Tombes Musulmanes datees de Tralaya” yang dimuat dalam BEFEO (Bulletin de “Ecole Francaise D’ Extremen-Orient) Tome XLVII Fas. 2 pada tahun 1957. Menurut Damais angka-angka tahun yang terdapat di komplek makam Troloyo yang tertua berasal dari abad XIV dan termuda berasal dari abad XVI. Dari penelitian Damais dapat disimpulkan bahwa saat itu Majapahit masih berdiri orang-orang islam sudah diterima tinggal disekitar Ibukota (Majapahit). Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota. Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Pak Didit sebagai tour guide Museum Majapahit di Trowulan, beliau mengatakan bahwa :
“Damai itu dibuktikan bahwa islam dalam kitab pararaton, islam diterima di Majapahit diletakkan disisi selatan kedaton, jadi sebelah selatan di komplek makam Troloyo itu adalah untuk pemuka agama, jadi disitu ada pemuka agama islam, ada pemuka agama hindu ada pemuka agama budha, jadi islam semuanya bisa diterima di Majapahit” (wawancara, 21 Mei 2014).
Makam Troloyo dulunya adalah sebuah tempat atau sebuah pemukiman untuk para pemuka agama islam yang menyiarkan agama islam di Majapahit (kebanyakan berasal dari para pedagang ). Sejalan dengan keterangan di atas Pak Didit sebagai tour guide di Museum Majapahit juga mengatakan hal yang sama, yaitu :
“Sebenarnya bukan makam dulu itu jadi itu adalah salah satu tempat, jadi islam itu datang ke Majapahit, karena masyarakat majapahit terdiri dari tiga masyarakat, masyarakat lokal yang beragama hindu-budha, masyarakat Timur Tengah kalo dulu itu Timur Jauh yang beragama islam dan masyarakat tionghoa yang beragama islam, nah itu diterima di Majapahit, nah makanya di Pararaton islam itu diterima di Majapahit diletakkan disisi selatan kedaton, jadi disisi selatan itu adalah untuk pemuka agama, ya iya disitu pemukiman untuk pemuka agama” (wawancara, 21 Mei 2014).
Islam di terima di Majapahit diletakkan di sebelah selatan kedaton, dimana disebelah selatan Makam Troloyo adalah tempat para pemuka agama tinggal, dari agama Hindu, Budha, dan juga islam. Pemuka agama islam yang meninggal juga dimakamkan di pemukiman tersebut, yang  sekarang  merupakan Makam Troloyo. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit mempunyai toleransi beragama yang sangat baik, semua agama dapat diterima dengan baik, dan dapat hidup saling berdampingan.



BAB IV
ISLAMISASI
A.    Proses Islamisasi di Majapahit
Sejak abad ke VII telah diketahui berdasarkan berita-berita dari Cina dan Arab, Indonesia telah dikunjungi oleh para pedagang Islam, bahkan di tempat-tempat tersebut mereka telah membentuk koloni-koloni. Adanya koloni-koloni para pedagang Islam yang datang dari Arab, Persia, dan India, sudah tentu menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat sekitarnya, khususnya dibidang keagamaan yaitu adanya agama Islam. (Djafar, 2009:85)
Pengenalan agama Islam dikalangan masyarakat setempat menyebabkan terjadinya proses islamisasi. Yang menjadi pertanyaan besar adalah sejak kapan Islam mulai masuk dan berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa, serta bagaimana proses islamisasi itu berlangsung. Untuk dapat mengetahui pemecahan masalah tersebut, kita patut mengemukakan lebih dahulu beberapa peninggalan arkeologi Islam yang dapat dijadikan bukti penetapan saat mulai masuknya dan berkembangnya agama Islam di Indonesia.
Di Mojokerto, tepatnya di Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan terdapat sebuah situs pemakaman Islam kuno (Troloyo) yang letaknya tidak jauh dari tempat yang oleh masyarakat luas diduga merupakan kompleks bekas Kedaton Majapahit. Angaka tahun terpahat pada batu-batu nisan Troloyo ini menunjuk pada tahun antara 1203 dan 1533 Saka atau antara 1281 dan 1611 Masehi. Sebuah di antaranya berangka tahun 874 Hijrah yang bertepatan dengan tahun Saka 1391 atau 1469 Masehi (Damais, 1957: 353-415, 1995: 223-332; Krom, 1910: XIX-XXII).
Dari angka-angka tahun yang terpahat pada batu nisan di troloyo, maka dapat disimpulkan bahwa agama Islam telah dianut oleh penduduk Majapahit pada zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Jadi dapat disimpulkan bahwa tempat pemakaman ini adalah tempat pemakaman bagi penduduk Kota Majapahit dan keluarga-keluarga raja yang telah memeluk Islam (Kempers, 1959: 105).
Dengan demikian, pada waktu majapahit mencapai puncak kejayaannya, di bawah raja Hayam Wuruk, agama Islam sudah dianut oleh penduduk Kota Majapahit. Ini dibuktikan oleh wawancara kami dengan Bapak Didit tour guide Museum Majapahit:
“Jadi makam Troloyo itu adalah salah satu komplek makam Islam yang ada pada abad ke-14 masa kerajaan Hayam Wuruk.” (wawancara, 21 Mei 2014).
Adanya penduduk Majapahit yang beragam Islam telah disebutkan oleh Ma Huan dalam buku Ying-yay sheng-lan  yang ditulisnya pada 1433. Dalam buku laporan perjalanannya itu, Ma Huan menyebutkan bahwa di majapahit terdapat tiga golongan penduduk, salah satunya adalah penduduk muslim. Penduduk muslim ini merupakan saudagar-saudagar pendatang dari berbagai kerajaan di Barat (Mills, 1970: 93).
Snouck Hurgronje berpendapat bahwa agama Islam yang berkembang di Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim yang berasal dari India. Para pedagang tersebut di beberapa tempat yang dikunjunginya memperlihatkan kecenderungan untuk menyebarkan agamanya. Penyebaran agama ini menurutnya terutama dilakukan melalui jalur perkawinan dengan penduduk setempat. Selanjutnya, setelah keluarga-keluarga muslim terbentuk, maka perlahan-lahan agama Islam dikembangkan ke sekitarnya (Hurgronje, 1913: 354-360; 1973: 13-15).
Pada dasarnya, pendapat tersebut sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh J.C va Leur yang dikemukakan dalam disertasinya, sedangkan B.J.O. Schrieke berpendapat mengenai masalah islamisasi khususnya di Jawa, dengan mendasarkan anggapan tentang adanya kontak-kontak kebudayaan, mengemukakan bahwa dalam proses islamisasi tersebut memegang peranan penting adalah para bengsawan setempat (Schrieke, 1916: 10-15, 28-39; 1955: 28-29).
Troloyo berasal dari kata Setra yang berarti rumput atau padang yang luas dan Pralaya yang berarti pemakaman, yang kemudian digabungkan menjadi Tralaya/Troloyo. Bukti ini dikuatkan dengan adanya Makam Tujuh dengan nisan berpahatkan Surya Majapahit disertai angka tahun dan tulisan arab yang mengindikasikan islam telah ada di Majapahit sejak itu. Hal serupa juga dikemukakan oleh Pak Didit sebagai tour guide di Museum Majapahit yang menyatakan bahwa :
“Yang itu yang untuk bukti makam islamnya itu ada di makam tujuh, itu bukti islam ada di Majapahit, makanya tadi kalo lihat nisannya ada surya majapahit” (wawancara, 21 Mei 2014).
 Hampir sebagian nisan dari makam tujuh berbentuk Lengkungan Kurawal yang merupakan kesenian Hindu, dan nampaknya terdapat perpaduan akulturasi Islam dengan Hindu.
Kerajaan Majapahit berkembang dan maju di nusantara sebagai kerajaan Hindu, namun pada abad XIV raja beserta pemerintah kerajaan memperbolehkan hidupnya agama lain di lingkungan kerajaan Majapahit. Hal itu dikuatkan dengan disediakannya tempat-tempat khusus untuk para pemuka agama yang terletak di sebelah selatan pusat kerajaan. Agama-agama tersebut antara lain : Budha, Islam, dan Karsian (agama goa).
B.     Konflik dalam Penyebaran Islam di Majapahit
Proses penyebaran Islam tidak terlepas dari suatu konflik. Konflik terjadi akibat satu atau bahkan banyak faktor. Proses penyebaran Islam yang terjadi di Majapahit berawal di daerah Troloyo. Daerah Troloyo dahulunya diperkirakan merupakan padang rumput luas yang digunakan untuk pemakaman.
Di pemakaman Troloyo ini mengindikasikan bahwa Islam telah masuk sejak abad 14 M, dengan bukti makam tujuh. Makam tujuh menjadi bukti awal masuknya Islam di Majapahit karena nisan yang ada pada makam tujuh bercorak Islam. Hal ini dapat di buktikan dengan hasil wawancara kami bersama bapak Didit tour guide Museum Majapahit:
“Jadi indikasinya bahwa islam itu sudah ada di Majapahit abad ke-14, disitu dinisannya dituliskan 1462.” (wawancara, 21 Mei 2014)
Dalam penyebaran awal, Kerajaan Majapahit masih bercorak Hindu jadi dalam penyebarannya Islam lebih menekankan kepada cara-cara dasar dalam Islam seperti, saat tidak tahu arah kiblat mengahadap kemanapun tidak dipermasalahkan, yang kedua jika penulisan lafadz salah tidak dipersoalkan karena semua itu bertujuan untuk mempermudah orang untuk mempelajari Islam. Hal ini bertujuan mempermudah Islam agar diterima di Majapahit. Hasil wawancara dengan Pak Didit seorang pemandu di Museum Majapahit juga mengatakan bahwa :
“Pada masa islam di Majapahit itu ada pada masa transisi, makanya yang islam yang masuk di ibukota majapahit itu lebih banyak bermahzab hanafi, jadi mahzab hanafi mempermudah, yang pertama jika mereka tidak tau arah kiblat mau sholat mau hadap kemanapun boleh yang kedua dalam penulisan jirat lafalnya kalo ada kesalahan tidak apa-apa” (wawancara, 21 Mei 2014).
Melihat makam-makam Muslim yang terdapat di situs-situs Majapahit, diketahui bahwa Islam sudah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan itu mencapai puncaknya. Islam menyebar ke pesisir pulau Jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian dari pesisir ini, agak belakangan menyebar ke pedalaman pulau Jawa (Ricklefs. M.C, 2009 : 6).
Berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit pada tahun 1400 saka (sirna ilang kertaning bumi). Keruntuhan itu disebabkan karena serangan Demak. Namun dalam Prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1408 saka (1486 M) membuktikan bahwa pada waktu itu kerajaan Majapahit masih berdiri. Di dalam prasasti-prasasti itu disebutkan, rajanya bernama Dyah Ranawijaya Girindra-wardhana (Sartono Kartodirdjo.dkk, 1987 : 274). Pada dasarnya belum ada bukti konkret tentang kebenaran atas penyerangan Raden Patah terhadap kerajaan Majapahit. Sebagaimana yang disebutkan oleh kitab Pararaton, pada tahun-tahun tersebut yaitu, pada tahun 1478.
Berdasarkan berita-berita Arab dan Cina, kita telah mengetahui bahwa beberapa daerah di Indonesia sejak abad VII telah dikunjungi oleh para pedagang Islam, bahkan di tempat-tempat tersebut mereka membentuk koloni-koloni. Adanya koloni-koloni para pedagang Islam, yang datang dari Arab, Persia dan India, sudah tentu menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat sekitarnya, khususnya di bidang keagamaan dikenalnya agama baru, yakni Islam. Sejak tahun 674 M di pantai barat Sumatera sudah ada koloni-koloni Saudagar yang berasal dari negeri Arab. Pada abad ke-8 M di sepanjang pantai barat dan timur pulau Sumatera diduga sudah ada komunitas-komunitas Muslim (Badri Yatim, 1993 : 162).
Sejak abad ke-13 itu, sudah terjadi hubungan politik dagang antara orang-orang di kepulauan nusantara dengan Arab, Persia, India, dan Cina. Hubungan dagang terjadi terutama melalui jalur laut yang melewati pelabuhan-pelabuhan besar. Pelabuhan utama di Jawa yaitu Sunda Kelapa, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban dan Gresik telah tumbuh sejak awal abad masehi. Para pedagang asing yang datang ke pelabuhan tersebut sambil menunggu datangnya musim yang baik untuk berlayar sambil membentuk koloni (Purwadi, 2009:2).
Hubungan dagang dan politik yang dilakukan oleh Majapahit ini membuat raja Majapahit pada saat itu memberikan tempat di selatan Majapahit sebagai tempat singgah bagi para Pedagang dan pemuka agama lain. Selain untuk tempat singgah Troloyo juga dijadikan tempat pemakaman. Majapahit adalah kerajaan yang menerima berbagai agama, tidak hanya Islam tetapi juga agama petapa, budha dll. Semua pemuka agama tersebut menjadi satulah di daerah Troloyo.
Jadi konflik kekerasan dalam penyebaran Islam di Majapahit belum tentu benar, karena belum ada bukti konkritnya. Kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah, setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta. Perang saudara yang disebut Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangi Wikramawardhana, semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dipancung. Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya.
Tetapi saat melemahnya kekuasaan Majapahit, di bagian pantai utara Jawa sudah mulai bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam. Menurut prasasti Jiyu dan Petak, Ranawijaya mengaku bahwa ia telah mengalahkan Kertabhumi  dan memindahkan ibu kota ke Daha (Kediri). Peristiwa ini memicu perang antara Daha dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan Kertabhumi. Peperangan ini dimenangi Demak pada tahun 1527. Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak akibat selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi.
Dengan jatuhnya Daha yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527, kekuatan kerajaan Islam pada awal abad ke-16 akhirnya mengalahkan sisa kerajaan Majapahit. Demak dibawah pemerintahan Raden (kemudian menjadi Sultan) Patah (Fatah), diakui sebagai penerus kerajaan Majapahit. Bahwa runtunya kerajaan Majapahit adalah disebabkan oleh adanya perang saudara, setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada, sehingga terjadi perebutan kekuasaan antara putra mahkota dengan putra selir yang ingin menjadi raja.
C.     Relasi Troloyo Dengan Pusat Kerajaan Islam di Demak
Kerajaan Islam pertama di Jawa berada di Bintoro, Demak  tepatnya terletak di tepi selat diantara pegunungan muria dan jawa, yang berdiri pada tahun 1403 saka atau 1478 M (Purwadi, 2005:33-34). Namun  jauh sebelum kerajaan islam di Demak telah berdiri makam-makam islam di daerah Troloyo, Mojokerto, JawaTimur. Bagaimana bisa makam-makam itu sudah ada sedangkan kerajaan Demak muncul sebelum makam-makam itu berdiri, pasti ada hubungan di antara proses islamisasi diantara kedua tempat tersebut yang dapat dihubungkan dengan relasi diantara keduanya.
Asal muasal kerajaan demak tidak akan terlepas dari raja pertamanya yang terkenal yaitu Raden Patah. Hubungan antara Raden Patah pun tidak akan terlepas dari kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan para pedagang islam yang berkumpul di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Hal serupa juga di kemukakan oleh Pak Didit saat kita melakukan wawancara, beliau mengatakan bahwa :
“Raden Patah ini putranya Brawijaya V, brawijaya V menikah dengan putri Campa, Kertabhumi menikah dengan putri Campa mempunyai putra
Raden Patah” (wawancara, 21 Mei 2014).

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Raden Patah adalah putra dari raja Brawijaya V raja terakhir dari kerajaan Majapahit sedangkan ibunya adalah putrid Champa seorang permainsuri dari Cambodia. Brawijaya V bertemu putrid Champa di Kerajaan Sriwijaya ketika itu Brawijaya V sedang diutus kekerajaan Sriwijaya untuk mengambil alih kekuasaan dagang yang kala itu direbut oleh para pedagang  dari Cina. Pada saat itu putri Champa telah mengandung seorang anak namun belum dijadikan istri oleh Brawijaya V. Dan akhirnya Brawijaya V memperistri putrid champa di Palembang, sumatera selatan. Putri Champa pun melahirkan seorang putra yang di berinama Raden Patah. Yang akan menjadi cikal bakal raja kerajaan Demak.
Setalah Raden Patah beranjak dewasa ia dibawa ibunya untuk belajar islam di Ampel Denta tepatnya di Sunan Ampel, Surabaya. Disana ia mendapat banyak pelajaran islam dari gurunya Raden Rahmat yang juga sekaligus pendiri dari pondok pesantren pertama di pulau jawa. Setalah sekian lama belajar keislaman disana ia diangkat sebagai Adipati di Glagahwangi dengan nama Raden Adipati Nata praja dengan ibukota di Demak Bintoro (Purwadi, 2005:36)







BAB V
 TOKOH-TOKOH YANG DIMAKAMKAN DI TROLOYO
A.    Syeikh Jumadil Kubro
Menurut Martin van Bruissen dalam Kitab Kuning, Pesantren, Tarekat, Dan Tradisi-Tradisi Islam Di Indonesia, nama Jumadil Kubro mirip nama Arab tergolong aneh karena melanggar tata bahasa arab. Kata Arab Kubro adalah kata sifat dalam bentuk mu’annats (feminin), bentuk superlatif ( ism tafdhil) dari kata kabir yang berarti besar. Bentuk kata mudzakkar yang sesuai adalah akbar. Martin menilai aneh, kata al-kubro menjadi bagian nama seorang laki-laki. Karena itu martin berpendapat nama jumadil kubro adalah penyingkatan nama Najamudin al-kubro menjadi Najumadinil Kubro, yang dihilangkan bunyi suku kata pertamannya menjadi jumadil kubro.
Raffles dalam The History Of Java mencatat kisah kisah legenda Gresik menyebutkan bahwa Syeikh Jumadil Kubro bukanlah seorag tokoh nenek moyang melainkan seorang pembimbing wali pertama. Dikisahkan, raden rahmat yg kelak menjadi sunan ampel, pertama-tama datang dari champa ke palembang dan kemudian meneruskan perjalanan ke majapahit. Mula mula raden rahmat ke gresik, dan mengunjungi seorang ahli ibadah yang tinggal di gunung jali, bernama syehk molana jumadil kubro. Babad tanah jawi menuturkan bahwa syehk jumadil kubro adalah sepupu sunan ampel yang hidup sebagai pertapa di sebuah hutan dekat gresi. Keberadaan syehk jumadil kubro sebagai seorang pertapa.
B.     Kencana Wungu
Di luar kompleks makam Syeikh Jumadil Kubro terdapat makam yang dikatakan juru kuncinya sebagai Kencana Wungu. Fakta Ratu Majapahit dalam cerita Damarwulan, Prabu Kenya-dalam cerita biasanya disebut Kencana Wungu-dikaitkan dengan Suhita. Sedangkan ilmuwan lain mengaitkan sosok Ratu Majapahit itu dengan Tribhuwanotungga Wijayawisynuwardhani (lebih lengkapnya lihat CC Berg, Penulisan Sejarah Jawa, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1985, halaman 90-92).
Dewi Suhita, yang naik tahta seabad sesudahnya yaitu pada tahun 1429. Ia menggantikan ayahnya Wikramawardana yang konon sempat memilih hidup sebagai seorang brahmana. Jika yang dimaksud dengan Kencanawungu adalah Suhita atau Tribuanatunggadewi maka jelas bahwa Ranggalawe yang diceritakan dalam Serat Damarwulan ini bukanlah Ranggalawe dalam pemberontakan melawan Majapahit, karena meraka hidup di jaman yang berbeda. Ranggalawe gugur pada tahun 1309 sedangkan Tribuanatunggadewi baru memerintah pada tahun 1328 dan Dewi Suhita baru memerintah pada tahun 1429.

Bagaimana dengan tokoh Menakjingga, Adipati Blambangan yang dalam Serat Damarwulan diceritakan diperangi oleh Majapahit karena memberontak dan ingin meminang Kencanawungu. Benarkah Menakjingga tak lain adalah Bhre Wirabumi seperti yang diduga oleh Pigeaud dan Brandes? Jadi jelas bahwa motif pemberontakan Bhre Wirabumi adalah perebutan tahta, sedangkan dalam Serat Damarwulan diceritakan bahwa motif pemberontakan Menakjingga adalah karena Kencanawungu menolak lamarannya. Jika Bhre Wirabumi adalah Menakjingga, tampaknya agak aneh karena dengan demikian ia bermaksud mempersunting cucunya sendiri.

Kejanggalan lain adalah masalah temporal. Seperti disebut di atas bahwa Dewi Suhita baru memerintah pada tahun 1429 setelah ayahnya Wikramawardana mangkat. Kemungkinan besar bahwa niat Wikramawardana untuk mengangkat Dewi Suhita menggantikan dirinya pada tahun 1400 itu diurungkan setelah terjadi pemberontakan itu, dan putrinya baru benar-benar menjadi raja setelah ia meninggal. Dengan demikian sulit dipahami jika Bhre Wirabumi adalah sama dengan Menak Jingga karena Bhre Wirabumi yang gugur pada saat Perang Paregreg (1404-1406) terjadi pada masa pemerintahan Wikramawardana, sedangkan dalam Serat Damarwulan disebutkan bahwa Menakjingga tewas pada masa pemerintahan Kencanawungu atau Dewi Suhita. Hal ini sekaligus untuk memperjelas lagi bahwa Kencana Wungu dan Suhita sulit untuk diasosiasikan .

Tokoh Damar Wulan
Bagaimana dengan tokoh Damarwulan? Benarkan ia sebenarnya adalah Raden Gadjah seperti yang dikemukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Dalam sejarah Perang Paregrek diceritakan bahwa pada awalnya pasukan Majapahit mengalami kekalahan. Kemudian diutuslah Raden Gadjah sebagai panglima perang. Raden Gadjah berhasil mengusir pasukan Blambangan dan membunuh Brhe Wirabumi pada saat ia ingin melarikan diri dengan menumpang sebuah perahu. Raden Gadjah kemudian memenggal kepala Bhre Wirabumi dan dibawa ke Majapahit. Seperti dijelaskan sebelumnya peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Wikramawardana. Hal yang menarik adalah bahwa pada tahun 1433, pada masa pemerintahan Dewi Suhita (1429-1447), Raden Gadjah dihukum mati sebagai pembalasan atas kematian Bhre Wirabumi.
Berdasarkan fakta-fakta di atas maka sulit dipahami jika Raden Gadjah ini disamakan dengan Damarwulan. Karena dalam Serat Damarwulan diceritakan bahwa setelah berhasil membunuh Menak Jingga ia dinobatkan menjadi Raja Majapahit dan mempersunting Kencanawungu sebagai permaisurinya. Hal ini tidak terjadi pada fakta-fakta yang ada tentang riwayat Raden Gadjah. Fakta lain yang dapat membantah asosiasi Raden Dadjah-Damarwulan ini disebutkan bahwa suami Dewi Suhita bukanlah Raden Gadjah tetapi Bhre Prameswara. Apakah Brhe Prameswara ini adalah nama lain dari Raden Gadjah? Tampaknya juga bukan, karena disebutkan bahwa Raden Gadjah dihukum mati pada tahun 1433, sedangkan Bhre Prameswara baru mangkat 13 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1446.
Stutterheim memiliki pandangan lain, bahwa Damarwulan adalah Kertawardana, suami Tribuanatunggadewi yang diasosiasikan dengan Kencanawungu, sedangkan Menakjingga adalah adipati Sadeng. Pendapat Stutterheim ini didasarkan pada Serat Pararaton, dimana didalamnya menyebut Anjasmara sebagai selir Kertawardana. Dalam serat Damarwulan Anjasmara adalah selir Damarwulan, putri Patih Majapahit, Logender, dan memiliki saudara kembar bernama Layangseta dan Layangkumitir.
Pendapat Sutterheim ini mengandung beberapa permasalahan. Memang pada masa pemerintahan Tribuanatunggadewi, Majapahit pernah menghadapi pemberontakan dari Sadeng yang terletak di Besuki yang juga wilayah kekuasaan Blambangan. Namun pemberontakan ini dapat segera dipadamkan karena kecakapan Patih Gadjah Mada. Dalam menumpas pemberontakan Sadeng ini ada persaingan antara Patih Gadjah Mada dengan seorang tokoh yang bernama Ra Kembar. Ra kembar sangat iri kepada Gadjah Mada yang diberi kepercayaan Ratu untuk menumpas pemberontakan ini. Oleh karena itu iapun melakukan upaya-upaya untuk mendapatkan perhatian ratu dengan ikut terlibat dalam penumpasan pemberontakan Sadeng ini. Di akhir pemberontakan Sadeng terjadi duel antara Gadjah Mada dan Ra Kembar yang kemudian ditandai sebagai sebuah episode terpenting dari sejarah Majapahit, karena dalam peristiwa itulah sumpah Gadjah Mada yang terkenal, “Sumpah Palapa” diucapkan. Dalam duel ini Gadjah Mada berhasil mengalahkan Ra Kembar, dan atas jasa-jasanya ia diangkat sebagai Patih Majapahit.
C.     Sunan Ngudung
Maulana Malik Ibrohim dengan Dewi Candra Wulan putrinya Raja Cingkara memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Raja Pendita, 2). Raden Rahmat (Sunan Ampel), dan 3). Siti Zainab. Raja Pendita Menikah dengan Raden Ayu Madu Retno putrinya Arya Baribin memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Haji Utsman (Sunan Manyuran Mandalika), 2). Utsman Haji (Sunan Ngudung), dan 3). Nyai Gede Tanda.
Nama asli Sunan Ngudung adalah Raden Usman Haji, putra Sunan Gresik kakak Sunan Ampel. Atau dengan kata lain, ia masih sepupu Sunan Bonang. Sunan Ngudung menikah dengan Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel. Dari perkawinan tersebut lahir Raden Amir Haji, yang juga bernama Jakfar Shadiq alias Sunan Kudus. Sunan Ngudung diangkat sebagai imam Masjid Demak menggantikan Sunan Bonang sekitar tahun 1520. Selain itu ia juga tergabung dalam anggota dewan Walisanga, yaitu suatu majelis dakwah agama Islam di Pulau Jawa.
Naskah-naskah babad, misalnya Babad Demak atau Babad Majapahit lan Para Wali mengisahkan Sunan Ngudung tewas ketika memimpin pasukan Kesultanan Demak dalam perang melawan Kerajaan Majapahit. Hasil wawancara kita dengan Bapak Didit juga menghasilkan pernyataan yang sama, beliau mengatakan bahwa :
“Iya jelas, Sunan Ngudung besannya Raden Patah, Raden patah menikahi putrinya Sunan Ngudung dan Sunan Ngudung itu disuruh Raden Patah mengislamkan Majapahit dan ia terbunuh di Majapahit” (wawancara, 21 Mei 2014).
Menurut naskah-naskah legenda tersebut, perang antara dua kerajaan ini terjadi pada tahun 1478. Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah melawan Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh ayahnya sendiri yaitu Brawijaya. Sunan Ngudung diangkat sebagai panglima perang menghadapi musuh yang dipimpin oleh Raden Kusen, adik tiri Raden Patah sendiri yang menjabat sebagai adipati Terung (dekat Krian, Sidoarjo). Raden Kusen merupakan seorang muslim namun tetap setia terhadap Majapahit. Dalam perang tersebut Sunan Ngudung sempat bersikap takabur karena telah memakai baju perang bernama Kyai Antakusuma (sekarang disebut Kyai Gondil). Baju pusaka itu diperoleh Sunan Kalijaga dan konon merupakan baju perang milik Nabi Muhammad.
Akibat sikap takabur tersebut, Sunan Ngudung lengah dalam pertempuran dan akhirnya tewas di tangan Raden Kusen. Jabatan Sunan Ngudung sebagai panglima perang kemudian digantikan oleh Sunan Kudus. Di bawah kepemimpinannya pihak Demak berhasil mengalahkan Majapahit. Menurut prasasti Trailokyapuri diketahui bahwa Majapahit runtuh bukan akibat serangan Demak melainkan karena perang saudara melawan keluarga Girindrawardhana. Namun siapa nama raja Majapahit saat itu tidak disebutkan dengan jelas. Secara samar-samar Pararaton menyebut nama Bhre Kertabhumi yang diduga sebagai raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Girindrawardhana. Apabila benar demikian, maka perang antara Demak dan Majapahit yang dikisahkan dalam naskah-naskah babad terjadi pada tahun 1478 belum tentu pernah terjadi. Prasasti Trailokyapuri menyebut Girindrawardhana sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri. Sementara itu Babad Sengkala menyebut Kadiri runtuh akibat serangan Demak pada tahun 1527. Karena menurut prasasti di atas, Kadiri dan Majapahit adalah satu kesatuan, maka dapat disimpulkan bahwa perang antara Majapahit dan Demak bukan terjadi pada tahun 1478 melainkan tahun 1527.
D.    Kompleks Makam Tujuh
Salah satu kelompok makam kuna adalah kelompok makam tujuh atau yang dikenal masyarakat kubur pitu ataupun kubur srengenge. Makam tujuh terdiri dari tujuh makam, berjajar dari barat ke timur yang terbagi dua deret yaitu lima deret makam di sebelah utara dan dua deret makam di sebelah selatan. nisan kubur berbentuk akolade atau kurung kurawal, bertipe demak-tralaya. beberapa nisan kubur beragam hias surya majapahit, berinskripsi huruf arab, hiasan daun-daunan, dan keropak. nisan makam 1 berangka tahun 1379 Caka atau 1475 Masehi, nisan makam II berangka tahun 1349 Caka atau 1427 Masehi, nisan makam III berangka tahun 1389 Caka atau 1467 Masehi, dan nisan makam IV berangka tahun 1329 Caka atau 1407 Masehi. berdasarkan angka tahun yang tercantum pada nisan makam tujuh dan nisan-nisan lepas lainnya, dapat diperkirakan bahwa kelompok masyarakat muslim pada masa puncak kejayaan kerajaan majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah mada sudah ada di sekitar ibu kota kerajaan majapahit.
Ketika Majapahit masih berdiri orang-orang islam sudah diterima tinggal disekitar ibu kota. Ada dua buah kelompok atau komplek pemakaman. Sebuah komplek terletak di bagian depan yakni dibagian tenggara dan sebuah lagi di bagian belakang (barat laut). Komplek makam yang terletak di sebuah bagian depan berturut-turut sebagai berikut :
1.      Makam yang dikenal dengan nama Pangeran Noto Suryo, nisan kakinya berangka tahun dalam huruf Jawa Kuno 1397 Saka (= 1457 M) ada tulisan arab dan lambang ‘surya Majapahit”.
2.      Makam yang dikenal dengan nama Patih Noto Kusumo, berangka tahun 1349 Saka (1427 M) bertuliskan Arab yang tidak lengkap dan lambang surya.
3.      Makam yang dikenal dengan sebutan Gajah Permodo angka tahunnya ada yang membaca 1377 Saka tapi ada yang membaca 1389 Saka, hampir sama dengan atasnya.
4.      Makam yang dikenal dengan sebutan Naya Genggong, angka tahunnya sudah aus, pembacaan ada dua kemungkinan : tahun 1319 Saka atau tahun 1329 Saka serta terpahat tulisan Arab kutipan dari surah Ali Imran 182 (menurut Damais 1850).
5.      Makam yang dikenal sebagai Sabdo palon, berangka tahun 1302 Saka dengan pahatan tulisan Arab kutipan surah Ali Imran ayat 18.
6.      Makam yang dikenal dengan sebutan Emban Kinasih, batu nisan kakinya tidak berhias. Dahulu pada nisan kepala bagian luar menurut Damais berisi angka tahun 1298 Saka.
7.      Makam yang dikenal dengan sebutan Polo Putro, nisannya polos tanpa hiasan. Menurut Damais pada nisan kepala dahulu terdapat angka tahun 1340 Saka pada bagian luar dan tulisan Arab yang diambil dari hadist Qudsi terpahat pada bagian dalamnya. (Noviyanti, 2013 : 586)
Melihat kombinasi bentuk dan pahatan yang terdapat pada batu-batu nisan yang merupakan paduan antara unsur-unsur pandatang (Islam) nampaknya adanya akulturasi kebudayaan antara Hindu dan Islam. Sedangkan apabila diperhatikan adanya kekurangcermatan dalam penulisan kalimat-kalimat thoyyibah dapat diduga bahwa para pemahat batu nisan nampaknya masih pemula dalam mengenal Islam.







BAB VI

A.    SIMPULAN
Makam Troloyo dulunya adalah sebuah tempat atau sebuah pemukiman untuk para pemuka agama islam yang menyiarkan agama islam di Majapahit (kebanyakan berasal dari para pedagang). Islam di terima di Majapahit diletakkan di sebelah selatan kedaton, dimana disebelah selatan Makam Troloyo adalah tempat para pemuka agama tinggal, dari agama Hindu, Budha, dan juga islam. Pemuka agama islam yang meninggal juga dimakamkan di pemukiman tersebut, yang  sekarang  merupakan Makam Troloyo. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit  mempunyai toleransi beragama yang sangat baik, semua agama dapat diterima dengan baik, dan dapat hidup saling berdampingan.
Adanya komunitas muslim pusat kerajaan Majapahit dibuktikan dengan ditemukannya makam-makam orang islam di situs yang dikenak sekarang sebagai kompleks makam Troloyo. Ada beberapa tokoh yang di diyakini di makamkan di kompleks itu, diantaranya: Syeikh Jumadi Kubro, Sunan Ngudung, Kencana Wungu, Makam Pitu.
Selain itu juga terdapat makam lainnya, yakni makam Tumenggung Satim Singomoyo, Nyi Endang Roro Kepyur, Tumenggung Patas Angin,  Anjasmoro, Kubur Telu (makam tiga) yang terdiri dari: Syekh Abdul Qodir Jaelani Assyni, Syekh Maulana Sekhah, dan Syekh Maulana Ibrahim, petilasan  Wali Songo yang diyakini  sebagai tempat para pemuka agama mensyiarkan ajaran Islam.
B.     SARAN
Kajian mengenai kompleks makam Troloyo masih perlu pengkajian lebih mendalam mengingat sangat sedikit sejarawan yang mengkaji kompleks makam ini. Kebanyakan dari sumber yang kami dapatkan hanya membahas sekilas yang masih menimbulkan berbagai pertanyaan.


DAFTAR PUSTAKA

Babad Tanah Jawi: Terbitan Balai Pustaka tahun 1939-1941, 24 jilid.
Bruinessen, Martin van. 1995. Kitab kuning, pesantren dan tarekat: tradisi-tradisi islam di Indonesia.Bandung: Mizan.
CC Berg. 1985. Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Djafar, Hasan. 2009. Masa Akhir Majapahit Girindrawardhana dan Masalahnya. Jakarta: Komunitas Bambu.
Noviyanti, Lucky Eka. 2013. “Perkembangan Makam Sayid Jumadil Kubro Sebagai Obyek Wisata Religi Pada Tahun 2002-2012 di Desa Sentonorojo Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto”. Avatara, e-journal pendidikan sejarah, volume 1 no 3.
Purwadi dan Maharsi. 2005. Babad Demak Sejarah Perkembangan Islam Di Tanah Jawa. Yogyakarta : Tunas Harapan.
Riclefs, M. C.2009. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu.
Sofwan, Wasit dan Mundiri. 2004. Islamisasi Di Jawa Walisongo, Penyebar Islam Di Jawa, Menurut Penuturan Babad. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sunyoto, Agus. 2012.Atlas Walisongo:Pustaka IiMaN.
Yatim, B. 1993. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. PT Raja Grafindo Persada.
Wawancara dengan Bapak Didit Tour Guide Museum Majapahit.