TROLOYO : BUKTI PENINGGALAN ISLAM DI KERAJAAN MAJAPAHIT
LAPORAN
KAJIAN PENINGGALAN SEJARAH II
Oleh
Mahasiswa Program Sudi Pendidikan Sejarah
Angkatan 2012, Rombel E
JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
PRAKATA
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
penyusunan laporan ini, bantuan dorongan serta bimbingannya. Ucapan terima
kasih penulis sampaikan kepada:
1. Kedua
Orang Tua kami tercinta. Doa restu, nasihat dan petunjuk dari mereka merupakan
dorongan moril yang paling berarti bagi penulis.
2. Bapak
Dr. Subagyo, M.pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri
Semarang.
3. Bapak
Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd. selaku Ketua Jurusan Sejarah.
4. Bapak
Dr. Hamdan Tri Atmaja. M.Pd selaku dosen Pembimbing laporan kerja
lapangan ini.
5. Kawan-kawan
Seperjuangan Jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2012.
6. Semua
pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah berjasa dalam
penyusunan laporan ini semoga Allah yang Maha Pengasih membalas kebaikan
mereka.
Akhirnya
hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua urusan dan mudah-mudahan laporan
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis dan para pembaca
pada umumnya, semoga Allah selalu meridhoi dan di catat sebagai amal ibadah
disisinya.
Semarang,
Juni 2014
Penyusun
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, yang selalu memberikan limpahan berkat
dan rahmat-Nya sehingga laporan KPS ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima
kasih atas dukungan dosen pembimbing, bantuan dan semangat yang selalu
diberikan kepada kami sehingga laporan KPS ini dapat diselesaikan dengan baik
oleh kami.
Seperti
kata pepatah bahwa tak ada gading yang tak retak, maka kami mohon maaf apabila
ada kekurangan pada laporan KPS ini. Dan kami juga mengharapkan kritik yang
membangun dalam penyempurnaan laporan KPS ini. Semoga laporan ini dapat menjadi
acuan untuk pembuatan laporan hasil KPS berikutnya serta dapat menambah
pengetahuan baru bagi siapa pun yang membacanya. Amin.
Semarang,
Juni 2014
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Kabupaten
Mojokerto memiliki potensi wisata dan budaya yang sangat besar, dengan
kebesaran nama Kerajaan Majapahit yang termasyur mewariskan nilai budaya yang
cukup tinggi, serta banyak pula peninggalan situs-situs, candi-candi dan
petilasan Kerajaan dizaman Majapahit seperti, kolam segaran, candi bajang ratu,
candi brangkal, candi jebong, candi lurah, candi minak jinggo, candi wringin,
candi tikus, sumur upas dan lain-lain. Dari puluhan situs yang ada di Kabupaten
Mojokerto, ada situs Makam Troloyo. Situs ini letaknya di kompleks pemakaman
Islam zaman kerajaan Majapahit di Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan Kabupaten
Mojokerto.
Kerajaan
Majapahit adalah kerajaan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap kehidupan
beragama dan kepercayaan masyarakatnya, hal ini terbukti dengan adanya sebuah
pemakaman islam yang terdapat di dalam wilayah lingkungan Kerajaan Majapahit
yang sekarang dikenal dengan nama situs makam Troloyo. Situs ini letaknya tidak
jauh dari situs Candi Kedaton dan situs Lantai Segi Enam. Islam adalah agama
baru bagi masyarakat Majapahit akan tetapi sebagai unsur kebudayaan, islam
telah diterima secara baik ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
Situs
makam Troloyo terkenal sebagai tempat wisata religius semenjak masa
pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus
Dur, saat mengadakan kunjungan ziarah ke tempat tersebut. Sejak saat itu,
tempat ini banyak dikunjungi peziarah baik dari Trowulan maupun dari daerah lain,
bahkan dari luar Jawa Timur. Saat ini komplek makam troloyo telah dibangun
sedemikian rupa (dilakukan pemugaran) sehingga menghilangkan ciri khas aslinya
sebagai suatu situs peninggalan purbakala dari jaman kerajaan Majapahit.
Situs Troloyo merupakan salah satu bukti
keberadaan komunitas muslim pada masa Majapahit. Situs ini terletak di Dusun
Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Kepurbakalaan yang ada di Troloyo adalah berupa makam Islam kuna yang berasal
dari masa Majapahit. Adanya makam kuna ini merupakan bukti adanya komunitas
muslim di wilayah ibukota Majapahit. Adanya komunitas muslim ini disebutkan
pula oleh Ma-Huan dalam bukunya Ying Yai - Sing Lan, yang ditulis pada tahun
1416 M. Dalam buku The Malay Annals of Semarang and Cherbon yang diterjemahkan
oleh HJE. de Graaf disebutkan bahwa utusan-utusan Cina dari Dinasti Ming pada
abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan muslim. Sebelum sampai di
Majapahit, muslim Cina yang bermahzab Hanafi membentuk masyarakat muslim di
Kukang (Palembang), barulah kemudian mereka bermukim di tempat lain termasuk
wilayah kerajaan Majapahit.
Melihat
kenyataan diatas tampaknya komplek makam Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa
Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sangat menarik untuk
dikaji, bukan saja karena berbagai keunikannya tetapi juga bagaimana makam
Troloyo ini sebagai bukti adanya sebuah komunitas islam di Majapahit, dimana
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu.
B. Fokus
Kajian
Dalam laporan ini kami akan memfokuskan kajan tentang Sejarah Troloyo dan Penyebaran Islam di Majapahit,
lingkup spasial
meliputi makam Troloyo di Desa
Sentonorejo dan temporal meliputi sejarah keberadaan makam Troloyo.
C. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana
sejarah keberadaan makam Troloyo?
2. Bagaimana
proses islamisasi di Majapahit?
3. Siapakah
tokoh-tokoh yang dimakamkan di makam Troloyo tersebut?
D.
Tujuan Kajian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dipaparkan di atas, maka
tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
bagaimana sejarah keberadaan makam Troloyo.
2. Mengetahui
bagaimana proses islamisasi di Majapahit.
3. Mengetahui
siapa tokoh-tokoh yang dimakamkan di pemakaman Troloyo.
E. Manfaat
kajian
Manfaat
Teoretis
: Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami sejarah keberadaan makam Troloyo,
proses islam atau islamisasi di kawasan kerajaan Majapahit, dan siapa
tokoh-tokoh yang dimakamkan di pemakaman Troloyo. Manfaat Empiris : Melalui
pengetahuan tentang sejarah keberadaan Troloyo, proses penyebaran islam atau
islamisasi di kawasan kerajaan Majapahit, dan siapa tokoh-tokoh yang dimakamkan
di pemakaman Troloyo. Diharapkan mahasiswa mampu menularkan kepada masyarakat
umum agar mengetahui jejak-jejak islam dalam kehidupan masyarakat Hindu pada
akhir kerajaan Majapahit.
F. Metode
Kajian
Dalam
kajian ini kami memakai teknik pengumpulan data dengan cara observasi, dan
wawancara. Observasi dilakukan saat berada di lokasi, observasi dilakukan
berdasarkan pengamatan yang ada di sekitar Makam Troloyo. Wawancara dilakukan
kepada narasumber yang ada di tempat observasi. Selain itu kami juga memakai
teknik pengumpulan data dengan cara kajian dokumen, berupa buku-buku sumber,
penelitian dan hasil di lapangan.
BAB
II
GAMBARAN
UMUM OBJEK KAJIAN
Makam
Troloyo atau Tralaya adalah sebuah komplek pemakaman yang terletak di Dusun
Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa
Timur, Indonesia. Tepatnya sekitar 15 km di sebelah barat kota Mojokerto.
Komplek pemakaman Tralaya merupakan komplek pemakaman Islam Kuno di Kota
Kerajaan Majapahit. Makam ini merupakan komplek makam peninggalan Kerajaan
Majapahit yang dijadikan tempat peristirahatan terakhir bagi kaum pedagang
muslim yang singgah di Majapahit untuk berdagang sekaligus mensyiarkan agama
Islam.
Komplek
makam Islam troloyo menempati areal tanah seluas kurang lebih dua Ha. Secara keseluruhan komplek makam Troloyo
dapat di generalisasikan dalam dua bagian yaitu sebelah barat ( belakang masjid
) dan sebelah Timur ( depan Masjid ). Adapun yang memebelah komplek makam
Troloyo tersebut adalah bangunana masjid dan beberapa bangunan perumahan
penduduk yang relative masih tergolong bangunan baru atau mungkin juga karena
tiadanya corak khusus yang memberikan nilai sejarah. Jadi, dapat di tangkap
secara sederhana menunjukkan bahwa komplek makam Islam Troloyo lebih
mencerminkan sebagai kuburan atau komplek pemakaman Islam biasa dan bersifat
umum dari pada suatu komplek pemakaman islam yang mencirikan nilai histories,
utamanya sejarah perkembangan Islam di Jawa.
Kompleks
Makam Troloyo terdiri dari beberapa bagian. Makam utama yang berada di kompleks
ini adalah makam Syekh Maulana Sayyid Jumadil Qubro. Selain itu juga terdapat
makam lainnya, yakni makam Tumenggung Satim Singomoyo di sisi kiri, Nyi Endang
Roro Kepyur (penari), Tumenggung Patas Angin, Kencono Wungu, Anjasmoro, dan
Senopati Sunan Kudung. Selain itu juga terdapat Kubur Telu (makam tiga) yang
terdiri dari: Syekh Abdul Qodir Jaelani Assyni, Syekh Maulana Sekhah, dan Syekh
Maulana Ibrahim. Kemudian juga terdapat Kubur Pitu (makam tujuh. Sementara,
ditengah-tengah kompleks tersebut, terdapat petilasan Wali Songo yang
diyakini sebagai tempat para pemuka agama
mensyiarkan ajaran Islam.
Adapun
bentuk bangunan makam – makam di komplek makam Troloyo satu sama lain memiliki
kesamaan pada bentuk jirat maupun nisan yang berhiaskan huruf Arab atau huruf Jawa. Adapun keistimewaan
komplek makam Troloyo dengan makam – makam yang lain ialah hampir semua pintu
masuk makam berada di sebelah selatan, kecuali pintu masuk makam Satim berada
di sebelah barat. Sedangkan bentuk bangun pintu ada yang berwujud Paduraksa,
seperti pintu masuk makam pintu Kenconowungu dan Anjasmoro, Kubur Pitu serta patih patas angin, dan yang lain
berbentuk biasa.
Seperti
kebanyakan makam serta situs lain, Kompleks Makam Troloyo juga dibanjiri para
peziarah. Para peziarah ini tak hanya berasal dari Kabupaten Mojokerto saja,
melainkan juga berasal dari kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Timur, bahkan
dari luar Pulau Jawa.
BAB III
SEJARAH
KEBERADAAN MAKAM TROLOYO TROWULAN JAWA TIMUR
Kerajaan
Majapahit adalah salah satu kerajaan besar di Indonesia pada masa lampau.
Kerajaan ini mencapai puncak kebesaran dan keemasannya pada abad XIV, yaitu
pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Pada masa itu, kekuasaan dan kebesaran
Kerajaan Majapahit sangat luas. Kerajaan ini memiliki pengaruh di seluruh
Nusantara, bahkan terhadap negara-negara tetangganya di Asia Tenggara (Djafar,
2012 : 2). Sampai saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang
dapat kita lihat sebagai tanda kebesaran Kerajaan Majapahit waktu itu, terutama
di Kecamatan Trowulan yang dulu merupakan ibukota Kerajaan Majapahit, salah
satu peninggalan sejarah yang menarik yaitu Makam Troloyo.
Makam
Troloyo atau Tralaya adalah sebuah komplek pemakaman islam kuno yang terletak
di kota kerajaan majapahit, berada di Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan,
Kabupaten Mojokerto. Tepatnya sekitar 15 km di sebelah barat kota Mojokerto. Troloyo
berasal dari kata Setra yang berarti rumput atau padang yang luas dan Pralaya
yang berarti pemakaman, yang kemudian digabungkan menjadi Tralaya/Troloyo. Berkenaan
dengan arti kata tersebut, Pak Didit seorang tour guide dari Museum Majapahit
mengatakan sebagai berikut :
“Jadi disitu memang
disebutkan dari kata Troloyo ini dari kata setra dan pralaya, jadi setra itu
dari kata padang rumput yang luas, pralaya adalah pemakaman, jadi padang rumput
yang luas digunakan untuk pemakaman” (wawancara, 21 Mei 2014).
Adanya
pemakaman islam kuno ini merupakan bukti adanya komunitas muslim di wilayah
ibukota Majapahit. Adanya komunitas muslim ini disebutkan pula oleh Ma-Huan
dalam bukunya Ying Yai – Sing Lan, yang ditulis pada tahun 1416 M menyebutkan,
ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat
Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka.
Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah
bermukim di pantai utara Jawa. Dalam buku The Malay Annals of Semarang and
Cherbon yang diterjemahkan oleh HJE. De Graaf disebutkan bahwa utusan-utusan
Cina dari dinasti Ming pada abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan muslim.
Sebelum sampai di majapahit, muslim cina bermahzab hanafi membentuk masyarakat
muslim di Kukang (palembang), barulah kemudian mereka bermukim di tempat lain
termasuk wilayah Kerajaan Majapahit (Noviyanti, 2013 : 585). Berdasarkan hasil
wawancara kami dengan Bapak Didit juga menyebutkan bahwa komunitas islam di
Majapahit bermahzab haniafi, beliau mengatakan sebagai berikut :
“Pada masa islam di
Majapahit itu ada pada masa transisi, makanya yang islam yang masuk di ibukota
majapahit itu lebih banyak bermahzab hanafi, jadi mahzab hanafi mempermudah,
yang pertama jika mereka tidak tau arah kiblat mau sholat mau hadap kemanapun
boleh yang kedua dalam penulisan jirat lafalnya kalo ada kesalahan tidak
apa-apa” (wawancara, 21 Mei 2014).
Makam-makam
Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari
tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi). Nisan-nisan
makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya
diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan
bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam.
Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan,
melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat
26-27.
P.J.
Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam
Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873. Selanjutnya peneliti dari Perancis, LC.
Damais juga meneliti kawasan ini, dengan hasil yang dibukukan dengan judul
“Etudes Javanaises I. Les Tombes Musulmanes datees de Tralaya” yang dimuat
dalam BEFEO (Bulletin de “Ecole Francaise D’ Extremen-Orient) Tome XLVII Fas. 2
pada tahun 1957. Menurut Damais angka-angka tahun yang terdapat di komplek
makam Troloyo yang tertua berasal dari abad XIV dan termuda berasal dari abad
XVI. Dari penelitian Damais dapat disimpulkan bahwa saat itu Majapahit masih
berdiri orang-orang islam sudah diterima tinggal disekitar Ibukota (Majapahit).
Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di
Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit
masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu
kota. Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian
dan toleransi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Pak Didit sebagai tour guide
Museum Majapahit di Trowulan, beliau mengatakan bahwa :
“Damai itu dibuktikan
bahwa islam dalam kitab pararaton, islam diterima di Majapahit diletakkan
disisi selatan kedaton, jadi sebelah selatan di komplek makam Troloyo itu
adalah untuk pemuka agama, jadi disitu ada pemuka agama islam, ada pemuka agama
hindu ada pemuka agama budha, jadi islam semuanya bisa diterima di Majapahit”
(wawancara, 21 Mei 2014).
Makam
Troloyo dulunya adalah sebuah tempat atau sebuah pemukiman untuk para pemuka
agama islam yang menyiarkan agama islam di Majapahit (kebanyakan berasal dari
para pedagang ). Sejalan dengan keterangan di atas Pak Didit sebagai tour guide
di Museum Majapahit juga mengatakan hal yang sama, yaitu :
“Sebenarnya bukan
makam dulu itu jadi itu adalah salah satu tempat, jadi islam itu datang ke
Majapahit, karena masyarakat majapahit terdiri dari tiga masyarakat, masyarakat
lokal yang beragama hindu-budha, masyarakat Timur Tengah kalo dulu itu Timur
Jauh yang beragama islam dan masyarakat tionghoa yang beragama islam, nah itu
diterima di Majapahit, nah makanya di Pararaton islam itu diterima di Majapahit
diletakkan disisi selatan kedaton, jadi disisi selatan itu adalah untuk pemuka
agama, ya iya disitu pemukiman untuk pemuka agama” (wawancara, 21 Mei 2014).
Islam
di terima di Majapahit diletakkan di sebelah selatan kedaton, dimana disebelah
selatan Makam Troloyo adalah tempat para pemuka agama tinggal, dari agama
Hindu, Budha, dan juga islam. Pemuka agama islam yang meninggal juga dimakamkan
di pemukiman tersebut, yang
sekarang merupakan Makam Troloyo.
Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit mempunyai toleransi beragama yang
sangat baik, semua agama dapat diterima dengan baik, dan dapat hidup saling
berdampingan.
BAB IV
ISLAMISASI
A. Proses
Islamisasi di Majapahit
Sejak
abad ke VII telah diketahui berdasarkan berita-berita dari Cina dan Arab,
Indonesia telah dikunjungi oleh para pedagang Islam, bahkan di tempat-tempat
tersebut mereka telah membentuk koloni-koloni. Adanya koloni-koloni para
pedagang Islam yang datang dari Arab, Persia, dan India, sudah tentu
menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat sekitarnya,
khususnya dibidang keagamaan yaitu adanya agama Islam. (Djafar, 2009:85)
Pengenalan
agama Islam dikalangan masyarakat setempat menyebabkan terjadinya proses
islamisasi. Yang menjadi pertanyaan besar adalah sejak kapan Islam mulai masuk
dan berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa, serta bagaimana proses
islamisasi itu berlangsung. Untuk dapat mengetahui pemecahan masalah tersebut,
kita patut mengemukakan lebih dahulu beberapa peninggalan arkeologi Islam yang
dapat dijadikan bukti penetapan saat mulai masuknya dan berkembangnya agama
Islam di Indonesia.
Di
Mojokerto, tepatnya di Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan terdapat sebuah
situs pemakaman Islam kuno (Troloyo) yang letaknya tidak jauh dari tempat yang
oleh masyarakat luas diduga merupakan kompleks bekas Kedaton Majapahit. Angaka
tahun terpahat pada batu-batu nisan Troloyo ini menunjuk pada tahun antara 1203
dan 1533 Saka atau antara 1281 dan 1611 Masehi. Sebuah di antaranya berangka
tahun 874 Hijrah yang bertepatan dengan tahun Saka 1391 atau 1469 Masehi
(Damais, 1957: 353-415, 1995: 223-332; Krom, 1910: XIX-XXII).
Dari
angka-angka tahun yang terpahat pada batu nisan di troloyo, maka dapat
disimpulkan bahwa agama Islam telah dianut oleh penduduk Majapahit pada zaman
pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Jadi dapat disimpulkan bahwa tempat pemakaman
ini adalah tempat pemakaman bagi penduduk Kota Majapahit dan keluarga-keluarga
raja yang telah memeluk Islam (Kempers, 1959: 105).
Dengan
demikian, pada waktu majapahit mencapai puncak kejayaannya, di bawah raja Hayam
Wuruk, agama Islam sudah dianut oleh penduduk Kota Majapahit. Ini dibuktikan
oleh wawancara kami dengan Bapak Didit tour guide Museum Majapahit:
“Jadi makam Troloyo
itu adalah salah satu komplek makam Islam yang ada pada abad ke-14 masa
kerajaan Hayam Wuruk.” (wawancara, 21 Mei 2014).
Adanya
penduduk Majapahit yang beragam Islam telah disebutkan oleh Ma Huan dalam buku Ying-yay sheng-lan yang ditulisnya pada 1433. Dalam buku laporan perjalanannya itu,
Ma Huan menyebutkan bahwa di majapahit terdapat tiga golongan penduduk, salah
satunya adalah penduduk muslim. Penduduk muslim ini merupakan saudagar-saudagar
pendatang dari berbagai kerajaan di Barat (Mills, 1970: 93).
Snouck
Hurgronje berpendapat bahwa agama Islam yang berkembang di Indonesia dibawa
oleh para pedagang muslim yang berasal dari India. Para pedagang tersebut di
beberapa tempat yang dikunjunginya memperlihatkan kecenderungan untuk
menyebarkan agamanya. Penyebaran agama ini menurutnya terutama dilakukan
melalui jalur perkawinan dengan penduduk setempat. Selanjutnya, setelah
keluarga-keluarga muslim terbentuk, maka perlahan-lahan agama Islam
dikembangkan ke sekitarnya (Hurgronje, 1913: 354-360; 1973: 13-15).
Pada
dasarnya, pendapat tersebut sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh J.C va
Leur yang dikemukakan dalam disertasinya, sedangkan B.J.O. Schrieke berpendapat
mengenai masalah islamisasi khususnya di Jawa, dengan mendasarkan anggapan
tentang adanya kontak-kontak kebudayaan, mengemukakan bahwa dalam proses
islamisasi tersebut memegang peranan penting adalah para bengsawan setempat
(Schrieke, 1916: 10-15, 28-39; 1955: 28-29).
Troloyo
berasal dari kata Setra yang berarti rumput atau padang yang luas dan Pralaya
yang berarti pemakaman, yang kemudian digabungkan menjadi Tralaya/Troloyo.
Bukti ini dikuatkan dengan adanya Makam Tujuh dengan nisan berpahatkan Surya
Majapahit disertai angka tahun dan tulisan arab yang mengindikasikan islam
telah ada di Majapahit sejak itu. Hal serupa juga dikemukakan oleh Pak Didit
sebagai tour guide di Museum Majapahit yang menyatakan bahwa :
“Yang itu yang untuk
bukti makam islamnya itu ada di makam tujuh, itu bukti islam ada di Majapahit,
makanya tadi kalo lihat nisannya ada surya majapahit” (wawancara, 21 Mei 2014).
Hampir sebagian nisan dari makam tujuh
berbentuk Lengkungan Kurawal yang merupakan kesenian Hindu, dan nampaknya
terdapat perpaduan akulturasi Islam dengan Hindu.
Kerajaan
Majapahit berkembang dan maju di nusantara sebagai kerajaan Hindu, namun pada
abad XIV raja beserta pemerintah kerajaan memperbolehkan hidupnya agama lain di
lingkungan kerajaan Majapahit. Hal itu dikuatkan dengan disediakannya
tempat-tempat khusus untuk para pemuka agama yang terletak di sebelah selatan
pusat kerajaan. Agama-agama tersebut antara lain : Budha, Islam, dan Karsian
(agama goa).
B. Konflik
dalam Penyebaran Islam di Majapahit
Proses
penyebaran Islam tidak terlepas dari suatu konflik. Konflik terjadi akibat satu
atau bahkan banyak faktor. Proses penyebaran Islam yang terjadi di Majapahit
berawal di daerah Troloyo. Daerah Troloyo dahulunya diperkirakan merupakan
padang rumput luas yang digunakan untuk pemakaman.
Di
pemakaman Troloyo ini mengindikasikan bahwa Islam telah masuk sejak abad 14 M,
dengan bukti makam tujuh. Makam tujuh menjadi bukti awal masuknya Islam di Majapahit
karena nisan yang ada pada makam tujuh bercorak Islam. Hal ini dapat di
buktikan dengan hasil wawancara kami bersama bapak Didit tour guide Museum
Majapahit:
“Jadi indikasinya
bahwa islam itu sudah ada di Majapahit abad ke-14, disitu dinisannya dituliskan
1462.” (wawancara, 21 Mei 2014)
Dalam
penyebaran awal, Kerajaan Majapahit masih bercorak Hindu jadi dalam
penyebarannya Islam lebih menekankan kepada cara-cara dasar dalam Islam
seperti, saat tidak tahu arah kiblat mengahadap kemanapun tidak dipermasalahkan,
yang kedua jika penulisan lafadz salah tidak dipersoalkan karena semua itu
bertujuan untuk mempermudah orang untuk mempelajari Islam. Hal ini bertujuan
mempermudah Islam agar diterima di Majapahit. Hasil wawancara dengan Pak Didit
seorang pemandu di Museum Majapahit juga mengatakan bahwa :
“Pada masa islam di
Majapahit itu ada pada masa transisi, makanya yang islam yang masuk di ibukota
majapahit itu lebih banyak bermahzab hanafi, jadi mahzab hanafi mempermudah,
yang pertama jika mereka tidak tau arah kiblat mau sholat mau hadap kemanapun
boleh yang kedua dalam penulisan jirat lafalnya kalo ada kesalahan tidak
apa-apa” (wawancara, 21 Mei 2014).
Melihat
makam-makam Muslim yang terdapat di situs-situs Majapahit, diketahui bahwa
Islam sudah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan itu mencapai puncaknya.
Islam menyebar ke pesisir pulau Jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian
dari pesisir ini, agak belakangan menyebar ke pedalaman pulau Jawa (Ricklefs.
M.C, 2009 : 6).
Berita
tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit pada tahun 1400 saka (sirna ilang
kertaning bumi). Keruntuhan itu disebabkan karena serangan Demak. Namun dalam
Prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1408 saka (1486 M) membuktikan
bahwa pada waktu itu kerajaan Majapahit masih berdiri. Di dalam
prasasti-prasasti itu disebutkan, rajanya bernama Dyah Ranawijaya
Girindra-wardhana (Sartono Kartodirdjo.dkk, 1987 : 274). Pada dasarnya belum
ada bukti konkret tentang kebenaran atas penyerangan Raden Patah terhadap
kerajaan Majapahit. Sebagaimana yang disebutkan oleh kitab Pararaton, pada
tahun-tahun tersebut yaitu, pada tahun 1478.
Berdasarkan
berita-berita Arab dan Cina, kita telah mengetahui bahwa beberapa daerah di
Indonesia sejak abad VII telah dikunjungi oleh para pedagang Islam, bahkan di
tempat-tempat tersebut mereka membentuk koloni-koloni. Adanya koloni-koloni
para pedagang Islam, yang datang dari Arab, Persia dan India, sudah tentu
menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat sekitarnya,
khususnya di bidang keagamaan dikenalnya agama baru, yakni Islam. Sejak tahun
674 M di pantai barat Sumatera sudah ada koloni-koloni Saudagar yang berasal
dari negeri Arab. Pada abad ke-8 M di sepanjang pantai barat dan timur pulau
Sumatera diduga sudah ada komunitas-komunitas Muslim (Badri Yatim, 1993 : 162).
Sejak
abad ke-13 itu, sudah terjadi hubungan politik dagang antara orang-orang di
kepulauan nusantara dengan Arab, Persia, India, dan Cina. Hubungan dagang
terjadi terutama melalui jalur laut yang melewati pelabuhan-pelabuhan besar.
Pelabuhan utama di Jawa yaitu Sunda Kelapa, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban
dan Gresik telah tumbuh sejak awal abad masehi. Para pedagang asing yang datang
ke pelabuhan tersebut sambil menunggu datangnya musim yang baik untuk berlayar
sambil membentuk koloni (Purwadi, 2009:2).
Hubungan
dagang dan politik yang dilakukan oleh Majapahit ini membuat raja Majapahit
pada saat itu memberikan tempat di selatan Majapahit sebagai tempat singgah
bagi para Pedagang dan pemuka agama lain. Selain untuk tempat singgah Troloyo
juga dijadikan tempat pemakaman. Majapahit adalah kerajaan yang menerima
berbagai agama, tidak hanya Islam tetapi juga agama petapa, budha dll. Semua
pemuka agama tersebut menjadi satulah di daerah Troloyo.
Jadi
konflik kekerasan dalam penyebaran Islam di Majapahit belum tentu benar, karena
belum ada bukti konkritnya. Kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah,
setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa
kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk adalah putri
mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran
Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya
Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta. Perang saudara yang disebut
Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi
melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangi Wikramawardhana,
semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dipancung. Tampaknya perang saudara
ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya.
Tetapi
saat melemahnya kekuasaan Majapahit, di bagian pantai utara Jawa sudah mulai
bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam. Menurut prasasti Jiyu dan Petak, Ranawijaya
mengaku bahwa ia telah mengalahkan Kertabhumi
dan memindahkan ibu kota ke Daha (Kediri). Peristiwa ini memicu perang
antara Daha dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan
Kertabhumi. Peperangan ini dimenangi Demak pada tahun 1527. Sejumlah besar abdi
istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau
Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan
hukuman dari Demak akibat selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan
Kertabhumi.
Dengan
jatuhnya Daha yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527, kekuatan kerajaan
Islam pada awal abad ke-16 akhirnya mengalahkan sisa kerajaan Majapahit. Demak
dibawah pemerintahan Raden (kemudian menjadi Sultan) Patah (Fatah), diakui
sebagai penerus kerajaan Majapahit. Bahwa runtunya kerajaan Majapahit adalah
disebabkan oleh adanya perang saudara, setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk dan
patihnya Gajah Mada, sehingga terjadi perebutan kekuasaan antara putra mahkota
dengan putra selir yang ingin menjadi raja.
C. Relasi
Troloyo Dengan Pusat Kerajaan Islam di Demak
Kerajaan Islam pertama
di Jawa berada di Bintoro, Demak
tepatnya terletak di tepi selat diantara pegunungan muria dan jawa, yang
berdiri pada tahun 1403 saka atau 1478 M (Purwadi, 2005:33-34). Namun jauh sebelum kerajaan islam di Demak telah
berdiri makam-makam islam di daerah Troloyo, Mojokerto, JawaTimur. Bagaimana
bisa makam-makam itu sudah ada sedangkan kerajaan Demak muncul sebelum
makam-makam itu berdiri, pasti ada hubungan di antara proses islamisasi
diantara kedua tempat tersebut yang dapat dihubungkan dengan relasi diantara
keduanya.
Asal muasal kerajaan
demak tidak akan terlepas dari raja pertamanya yang terkenal yaitu Raden Patah.
Hubungan antara Raden Patah pun tidak akan terlepas dari kerajaan Majapahit,
Sriwijaya dan para pedagang islam yang berkumpul di daerah Palembang, Sumatera
Selatan. Hal serupa juga di kemukakan oleh Pak Didit saat kita melakukan
wawancara, beliau mengatakan bahwa :
“Raden Patah ini putranya
Brawijaya V, brawijaya V menikah dengan putri Campa, Kertabhumi menikah dengan
putri Campa mempunyai putra
Raden Patah” (wawancara, 21 Mei
2014).
Berdasarkan hasil
wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Raden Patah adalah putra dari raja
Brawijaya V raja terakhir dari kerajaan Majapahit sedangkan ibunya adalah
putrid Champa seorang permainsuri dari Cambodia. Brawijaya V bertemu putrid
Champa di Kerajaan Sriwijaya ketika itu Brawijaya V sedang diutus kekerajaan
Sriwijaya untuk mengambil alih kekuasaan dagang yang kala itu direbut oleh para
pedagang dari Cina. Pada saat itu putri
Champa telah mengandung seorang anak namun belum dijadikan istri oleh Brawijaya
V. Dan akhirnya Brawijaya V memperistri putrid champa di Palembang, sumatera
selatan. Putri Champa pun melahirkan seorang putra yang di berinama Raden
Patah. Yang akan menjadi cikal bakal raja kerajaan Demak.
Setalah Raden Patah
beranjak dewasa ia dibawa ibunya untuk belajar islam di Ampel Denta tepatnya di
Sunan Ampel, Surabaya. Disana ia mendapat banyak pelajaran islam dari gurunya
Raden Rahmat yang juga sekaligus pendiri dari pondok pesantren pertama di pulau
jawa. Setalah sekian lama belajar keislaman disana ia diangkat sebagai Adipati
di Glagahwangi dengan nama Raden Adipati Nata praja dengan ibukota di Demak
Bintoro (Purwadi, 2005:36)
BAB
V
TOKOH-TOKOH YANG DIMAKAMKAN DI TROLOYO
A. Syeikh
Jumadil Kubro
Menurut
Martin van Bruissen dalam Kitab Kuning,
Pesantren, Tarekat, Dan Tradisi-Tradisi Islam Di Indonesia, nama Jumadil
Kubro mirip nama Arab tergolong aneh karena melanggar tata bahasa arab. Kata
Arab Kubro adalah kata sifat dalam bentuk mu’annats (feminin), bentuk
superlatif ( ism tafdhil) dari kata kabir yang berarti besar. Bentuk kata
mudzakkar yang sesuai adalah akbar. Martin menilai aneh, kata al-kubro menjadi
bagian nama seorang laki-laki. Karena itu martin berpendapat nama jumadil kubro
adalah penyingkatan nama Najamudin al-kubro menjadi Najumadinil Kubro, yang
dihilangkan bunyi suku kata pertamannya menjadi jumadil kubro.
Raffles
dalam The History Of Java mencatat
kisah kisah legenda Gresik menyebutkan bahwa Syeikh Jumadil Kubro bukanlah
seorag tokoh nenek moyang melainkan seorang pembimbing wali pertama.
Dikisahkan, raden rahmat yg kelak menjadi sunan ampel, pertama-tama datang dari
champa ke palembang dan kemudian meneruskan perjalanan ke majapahit. Mula mula
raden rahmat ke gresik, dan mengunjungi seorang ahli ibadah yang tinggal di
gunung jali, bernama syehk molana jumadil kubro. Babad tanah jawi menuturkan
bahwa syehk jumadil kubro adalah sepupu sunan ampel yang hidup sebagai pertapa
di sebuah hutan dekat gresi. Keberadaan syehk jumadil kubro sebagai seorang
pertapa.
B. Kencana
Wungu
Di
luar kompleks makam Syeikh Jumadil Kubro terdapat makam yang dikatakan juru
kuncinya sebagai Kencana Wungu. Fakta Ratu Majapahit dalam cerita
Damarwulan, Prabu Kenya-dalam cerita biasanya disebut Kencana Wungu-dikaitkan
dengan Suhita. Sedangkan ilmuwan lain mengaitkan sosok Ratu Majapahit itu
dengan Tribhuwanotungga Wijayawisynuwardhani (lebih lengkapnya lihat CC Berg,
Penulisan Sejarah Jawa, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1985, halaman 90-92).
Dewi Suhita, yang naik tahta seabad
sesudahnya yaitu pada tahun 1429. Ia menggantikan ayahnya Wikramawardana yang
konon sempat memilih hidup sebagai seorang brahmana. Jika yang dimaksud dengan
Kencanawungu adalah Suhita atau Tribuanatunggadewi maka jelas bahwa Ranggalawe
yang diceritakan dalam Serat Damarwulan ini bukanlah Ranggalawe dalam
pemberontakan melawan Majapahit, karena meraka hidup di jaman yang berbeda.
Ranggalawe gugur pada tahun 1309 sedangkan Tribuanatunggadewi baru memerintah
pada tahun 1328 dan Dewi Suhita baru memerintah pada tahun 1429.
Bagaimana dengan tokoh Menakjingga,
Adipati Blambangan yang dalam Serat Damarwulan diceritakan diperangi oleh
Majapahit karena memberontak dan ingin meminang Kencanawungu. Benarkah
Menakjingga tak lain adalah Bhre Wirabumi seperti yang diduga oleh Pigeaud dan
Brandes? Jadi jelas bahwa motif pemberontakan Bhre Wirabumi adalah perebutan
tahta, sedangkan dalam Serat Damarwulan diceritakan bahwa motif pemberontakan
Menakjingga adalah karena Kencanawungu menolak lamarannya. Jika Bhre Wirabumi
adalah Menakjingga, tampaknya agak aneh karena dengan demikian ia bermaksud
mempersunting cucunya sendiri.
Kejanggalan lain adalah masalah
temporal. Seperti disebut di atas bahwa Dewi Suhita baru memerintah pada tahun
1429 setelah ayahnya Wikramawardana mangkat. Kemungkinan besar bahwa niat
Wikramawardana untuk mengangkat Dewi Suhita menggantikan dirinya pada tahun
1400 itu diurungkan setelah terjadi pemberontakan itu, dan putrinya baru
benar-benar menjadi raja setelah ia meninggal. Dengan demikian sulit dipahami
jika Bhre Wirabumi adalah sama dengan Menak Jingga karena Bhre Wirabumi yang
gugur pada saat Perang Paregreg (1404-1406) terjadi pada masa pemerintahan
Wikramawardana, sedangkan dalam Serat Damarwulan disebutkan bahwa Menakjingga
tewas pada masa pemerintahan Kencanawungu atau Dewi Suhita. Hal ini sekaligus
untuk memperjelas lagi bahwa Kencana Wungu dan Suhita sulit untuk diasosiasikan
.
Tokoh Damar Wulan
Bagaimana
dengan tokoh Damarwulan? Benarkan ia sebenarnya adalah Raden Gadjah seperti
yang dikemukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Dalam sejarah Perang Paregrek
diceritakan bahwa pada awalnya pasukan Majapahit mengalami kekalahan. Kemudian
diutuslah Raden Gadjah sebagai panglima perang. Raden Gadjah berhasil mengusir
pasukan Blambangan dan membunuh Brhe Wirabumi pada saat ia ingin melarikan diri
dengan menumpang sebuah perahu. Raden Gadjah kemudian memenggal kepala Bhre
Wirabumi dan dibawa ke Majapahit. Seperti dijelaskan sebelumnya peristiwa ini
terjadi pada masa pemerintahan Wikramawardana. Hal yang menarik adalah bahwa
pada tahun 1433, pada masa pemerintahan Dewi Suhita (1429-1447), Raden Gadjah
dihukum mati sebagai pembalasan atas kematian Bhre Wirabumi.
Berdasarkan
fakta-fakta di atas maka sulit dipahami jika Raden Gadjah ini disamakan dengan
Damarwulan. Karena dalam Serat Damarwulan diceritakan bahwa setelah berhasil
membunuh Menak Jingga ia dinobatkan menjadi Raja Majapahit dan mempersunting
Kencanawungu sebagai permaisurinya. Hal ini tidak terjadi pada fakta-fakta yang
ada tentang riwayat Raden Gadjah. Fakta lain yang dapat membantah asosiasi
Raden Dadjah-Damarwulan ini disebutkan bahwa suami Dewi Suhita bukanlah Raden
Gadjah tetapi Bhre Prameswara. Apakah Brhe Prameswara ini adalah nama lain dari
Raden Gadjah? Tampaknya juga bukan, karena disebutkan bahwa Raden Gadjah
dihukum mati pada tahun 1433, sedangkan Bhre Prameswara baru mangkat 13 tahun
kemudian, yaitu pada tahun 1446.
Stutterheim
memiliki pandangan lain, bahwa Damarwulan adalah Kertawardana, suami Tribuanatunggadewi
yang diasosiasikan dengan Kencanawungu, sedangkan Menakjingga adalah adipati
Sadeng. Pendapat Stutterheim ini didasarkan pada Serat Pararaton, dimana
didalamnya menyebut Anjasmara sebagai selir Kertawardana. Dalam serat
Damarwulan Anjasmara adalah selir Damarwulan, putri Patih Majapahit, Logender,
dan memiliki saudara kembar bernama Layangseta dan Layangkumitir.
Pendapat
Sutterheim ini mengandung beberapa permasalahan. Memang pada masa pemerintahan
Tribuanatunggadewi, Majapahit pernah menghadapi pemberontakan dari Sadeng yang
terletak di Besuki yang juga wilayah kekuasaan Blambangan. Namun pemberontakan
ini dapat segera dipadamkan karena kecakapan Patih Gadjah Mada. Dalam menumpas
pemberontakan Sadeng ini ada persaingan antara Patih Gadjah Mada dengan seorang
tokoh yang bernama Ra Kembar. Ra kembar sangat iri kepada Gadjah Mada yang
diberi kepercayaan Ratu untuk menumpas pemberontakan ini. Oleh karena itu iapun
melakukan upaya-upaya untuk mendapatkan perhatian ratu dengan ikut terlibat
dalam penumpasan pemberontakan Sadeng ini. Di akhir pemberontakan Sadeng
terjadi duel antara Gadjah Mada dan Ra Kembar yang kemudian ditandai sebagai
sebuah episode terpenting dari sejarah Majapahit, karena dalam peristiwa itulah
sumpah Gadjah Mada yang terkenal, “Sumpah Palapa” diucapkan. Dalam duel ini
Gadjah Mada berhasil mengalahkan Ra Kembar, dan atas jasa-jasanya ia diangkat
sebagai Patih Majapahit.
C. Sunan
Ngudung
Maulana
Malik Ibrohim dengan Dewi Candra Wulan putrinya Raja Cingkara memiliki tiga
orang anak, yaitu : 1). Raja Pendita, 2). Raden Rahmat (Sunan Ampel), dan 3).
Siti Zainab. Raja Pendita Menikah dengan Raden Ayu Madu Retno putrinya Arya
Baribin memiliki tiga orang anak, yaitu : 1). Haji Utsman (Sunan Manyuran
Mandalika), 2). Utsman Haji (Sunan Ngudung), dan 3). Nyai Gede Tanda.
Nama asli Sunan Ngudung adalah Raden Usman Haji, putra
Sunan Gresik kakak Sunan Ampel. Atau dengan kata lain, ia masih sepupu Sunan
Bonang. Sunan Ngudung menikah dengan Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel. Dari
perkawinan tersebut lahir Raden Amir Haji, yang juga bernama Jakfar Shadiq
alias Sunan Kudus. Sunan Ngudung diangkat sebagai imam Masjid Demak
menggantikan Sunan Bonang sekitar tahun 1520. Selain itu ia juga tergabung
dalam anggota dewan Walisanga, yaitu suatu majelis dakwah agama Islam di Pulau
Jawa.
Naskah-naskah babad, misalnya Babad Demak atau Babad Majapahit lan Para
Wali mengisahkan Sunan Ngudung tewas ketika memimpin pasukan Kesultanan Demak
dalam perang melawan Kerajaan Majapahit. Hasil wawancara kita dengan Bapak
Didit juga menghasilkan pernyataan yang sama, beliau mengatakan bahwa :
“Iya jelas, Sunan Ngudung besannya Raden
Patah, Raden patah menikahi putrinya Sunan Ngudung dan Sunan Ngudung itu
disuruh Raden Patah mengislamkan Majapahit dan ia terbunuh di Majapahit”
(wawancara, 21 Mei 2014).
Menurut naskah-naskah legenda tersebut, perang antara dua kerajaan ini
terjadi pada tahun 1478. Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah
melawan Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh ayahnya sendiri yaitu Brawijaya.
Sunan Ngudung diangkat sebagai panglima perang menghadapi musuh yang dipimpin
oleh Raden Kusen, adik tiri Raden Patah sendiri yang menjabat sebagai adipati
Terung (dekat Krian, Sidoarjo). Raden Kusen merupakan seorang muslim namun
tetap setia terhadap Majapahit. Dalam perang tersebut Sunan Ngudung sempat
bersikap takabur karena telah memakai baju perang bernama Kyai Antakusuma
(sekarang disebut Kyai Gondil). Baju pusaka itu diperoleh Sunan Kalijaga dan
konon merupakan baju perang milik Nabi Muhammad.
Akibat sikap takabur tersebut, Sunan Ngudung lengah dalam pertempuran dan
akhirnya tewas di tangan Raden Kusen. Jabatan Sunan Ngudung sebagai panglima
perang kemudian digantikan oleh Sunan Kudus. Di bawah kepemimpinannya pihak
Demak berhasil mengalahkan Majapahit. Menurut prasasti Trailokyapuri diketahui
bahwa Majapahit runtuh bukan akibat serangan Demak melainkan karena perang
saudara melawan keluarga Girindrawardhana. Namun siapa nama raja Majapahit saat
itu tidak disebutkan dengan jelas. Secara samar-samar Pararaton menyebut nama
Bhre Kertabhumi yang diduga sebagai raja terakhir Majapahit yang dikalahkan
oleh Girindrawardhana. Apabila benar demikian, maka perang antara Demak dan
Majapahit yang dikisahkan dalam naskah-naskah babad terjadi pada tahun 1478
belum tentu pernah terjadi. Prasasti Trailokyapuri menyebut Girindrawardhana
sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri. Sementara itu Babad Sengkala
menyebut Kadiri runtuh akibat serangan Demak pada tahun 1527. Karena menurut
prasasti di atas, Kadiri dan Majapahit adalah satu kesatuan, maka dapat
disimpulkan bahwa perang antara Majapahit dan Demak bukan terjadi pada tahun
1478 melainkan tahun 1527.
D.
Kompleks Makam Tujuh
Salah satu kelompok
makam kuna adalah kelompok makam tujuh atau yang dikenal masyarakat kubur pitu
ataupun kubur srengenge. Makam tujuh terdiri dari tujuh makam, berjajar dari
barat ke timur yang terbagi dua deret yaitu lima deret makam di sebelah utara
dan dua deret makam di sebelah selatan. nisan kubur berbentuk akolade atau
kurung kurawal, bertipe demak-tralaya. beberapa nisan kubur beragam hias surya
majapahit, berinskripsi huruf arab, hiasan daun-daunan, dan keropak. nisan
makam 1 berangka tahun 1379 Caka atau 1475 Masehi, nisan makam II berangka
tahun 1349 Caka atau 1427 Masehi, nisan makam III berangka tahun 1389 Caka atau
1467 Masehi, dan nisan makam IV berangka tahun 1329 Caka atau 1407 Masehi.
berdasarkan angka tahun yang tercantum pada nisan makam tujuh dan nisan-nisan
lepas lainnya, dapat diperkirakan bahwa kelompok masyarakat muslim pada masa
puncak kejayaan kerajaan majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah
mada sudah ada di sekitar ibu kota kerajaan majapahit.
Ketika Majapahit masih
berdiri orang-orang islam sudah diterima tinggal disekitar ibu kota. Ada dua
buah kelompok atau komplek pemakaman. Sebuah komplek terletak di bagian depan
yakni dibagian tenggara dan sebuah lagi di bagian belakang (barat laut). Komplek
makam yang terletak di sebuah bagian depan berturut-turut sebagai berikut :
1.
Makam yang dikenal dengan nama Pangeran Noto Suryo, nisan
kakinya berangka tahun dalam huruf Jawa Kuno 1397 Saka (= 1457 M) ada tulisan
arab dan lambang ‘surya Majapahit”.
2.
Makam yang dikenal dengan nama Patih Noto Kusumo, berangka tahun
1349 Saka (1427 M) bertuliskan Arab yang tidak lengkap dan lambang surya.
3.
Makam yang dikenal dengan sebutan Gajah Permodo angka tahunnya
ada yang membaca 1377 Saka tapi ada yang membaca 1389 Saka, hampir sama dengan
atasnya.
4.
Makam yang dikenal dengan sebutan Naya Genggong, angka tahunnya
sudah aus, pembacaan ada dua kemungkinan : tahun 1319 Saka atau tahun 1329 Saka
serta terpahat tulisan Arab kutipan dari surah Ali Imran 182 (menurut Damais
1850).
5.
Makam yang dikenal sebagai Sabdo palon, berangka tahun 1302 Saka
dengan pahatan tulisan Arab kutipan surah Ali Imran ayat 18.
6.
Makam yang dikenal dengan sebutan Emban Kinasih, batu nisan
kakinya tidak berhias. Dahulu pada nisan kepala bagian luar menurut Damais
berisi angka tahun 1298 Saka.
7.
Makam yang dikenal dengan sebutan Polo Putro, nisannya polos
tanpa hiasan. Menurut Damais pada nisan kepala dahulu terdapat angka tahun 1340
Saka pada bagian luar dan tulisan Arab yang diambil dari hadist Qudsi terpahat
pada bagian dalamnya. (Noviyanti, 2013 : 586)
Melihat kombinasi
bentuk dan pahatan yang terdapat pada batu-batu nisan yang merupakan paduan
antara unsur-unsur pandatang (Islam) nampaknya adanya akulturasi kebudayaan
antara Hindu dan Islam. Sedangkan apabila diperhatikan adanya kekurangcermatan
dalam penulisan kalimat-kalimat thoyyibah dapat diduga bahwa para pemahat batu
nisan nampaknya masih pemula dalam mengenal Islam.
BAB VI
A.
SIMPULAN
Makam
Troloyo dulunya adalah sebuah tempat atau sebuah pemukiman untuk para pemuka
agama islam yang menyiarkan agama islam di Majapahit (kebanyakan berasal dari
para pedagang). Islam di terima di Majapahit diletakkan di sebelah selatan
kedaton, dimana disebelah selatan Makam Troloyo adalah tempat para pemuka agama
tinggal, dari agama Hindu, Budha, dan juga islam. Pemuka agama islam yang
meninggal juga dimakamkan di pemukiman tersebut, yang sekarang
merupakan Makam Troloyo. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit mempunyai toleransi beragama yang sangat
baik, semua agama dapat diterima dengan baik, dan dapat hidup saling
berdampingan.
Adanya komunitas muslim
pusat kerajaan Majapahit dibuktikan dengan ditemukannya makam-makam orang islam
di situs yang dikenak sekarang sebagai kompleks makam Troloyo. Ada beberapa
tokoh yang di diyakini di makamkan di kompleks itu, diantaranya: Syeikh Jumadi
Kubro, Sunan Ngudung, Kencana Wungu, Makam Pitu.
Selain
itu juga terdapat makam lainnya, yakni makam Tumenggung Satim Singomoyo, Nyi
Endang Roro Kepyur, Tumenggung
Patas Angin, Anjasmoro, Kubur Telu
(makam tiga) yang terdiri dari: Syekh Abdul Qodir Jaelani Assyni, Syekh Maulana
Sekhah, dan Syekh Maulana Ibrahim, petilasan Wali Songo yang diyakini sebagai tempat para pemuka agama mensyiarkan
ajaran Islam.
B. SARAN
Kajian mengenai kompleks makam Troloyo masih perlu
pengkajian lebih mendalam mengingat sangat sedikit sejarawan yang mengkaji kompleks makam ini.
Kebanyakan dari sumber yang kami dapatkan hanya membahas sekilas yang masih
menimbulkan berbagai pertanyaan.
DAFTAR PUSTAKA
Babad Tanah Jawi: Terbitan Balai Pustaka tahun 1939-1941, 24 jilid.
Bruinessen, Martin van. 1995. Kitab
kuning, pesantren dan tarekat: tradisi-tradisi islam di Indonesia.Bandung: Mizan.
CC Berg. 1985. Penulisan Sejarah Jawa.
Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Djafar, Hasan. 2009. Masa Akhir
Majapahit Girindrawardhana dan Masalahnya. Jakarta: Komunitas Bambu.
Noviyanti,
Lucky Eka. 2013. “Perkembangan Makam Sayid Jumadil Kubro Sebagai Obyek Wisata
Religi Pada Tahun 2002-2012 di Desa Sentonorojo Kecamatan Trowulan Kabupaten
Mojokerto”. Avatara, e-journal pendidikan
sejarah, volume 1 no 3.
Purwadi dan Maharsi. 2005. Babad Demak Sejarah Perkembangan Islam Di
Tanah Jawa. Yogyakarta : Tunas Harapan.
Riclefs, M. C.2009. Sejarah Indonesia
Modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu.
Sofwan, Wasit dan Mundiri. 2004. Islamisasi Di Jawa Walisongo, Penyebar Islam
Di Jawa, Menurut Penuturan Babad. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sunyoto, Agus. 2012.Atlas Walisongo:Pustaka IiMaN.
Yatim, B. 1993. Sejarah Peradaban
Islam: Dirasah Islamiyah II. PT
Raja Grafindo Persada.
Wawancara dengan Bapak Didit Tour Guide Museum Majapahit.