SAREKAT
ISLAM (NASIONALIS - RELIGIUS) DAN INDISCHE PARTIJ ( ORGANISASI POLITIK MURNI)
Disusun
guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pergerakan Nasional
Dosen
Pengampu :
Insan
Fahmi Siregar
Oleh:
Nama : Retno Yuni
Dewanti
NIM : 3111412018
Rombel : Ilmu Sejarah
JURUSAN
SEJARAH
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2014
PENDAHULUAN
Pergolakan
masyarakat sebagai akibat perubahan sosial yang cepat membangkitkan kesadaran
kaum pribumi yang bermula secara perorangan kemudian meluas di kalangan rakyat
pribumi. Tiga tahun setelah berdirinya Budi Utomo, pada tahun 1911 berdirilah
organisasi yang disebut Sarekat Islam. Latar belakang ekonomis perkumpulan ini
sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi pedagang (pedagang penyalur) orang-orang
Cina. Para pendiri Sarekat Islam tidak semata-mata mengadakan perlawanan
terhadap pedagang Cina, tetapi juga sebagai front melawan semua penghinaan
terhadap rakyat pribumi serta reaksi adanya politik kristenisasi dari kaum
zending (Nugroho Notosusanto, 1975 : 187). Selain itu ada juga organisasi
politik pertama yaitu Indische Partij yang berdiri di Bandung pada tanggal 25
Desmber 1912. Organisasi ini dimaksudkan sebagai pengganti organisasi Indische
Bond, sebagai organisasi kaum Indo dan Eropa di Indonesia yang didirikan pada
tahun 1898. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih dalam
mengenai Sarekat Islam dan Indische Partij sebagai organisasi Pergerakan
nasional.
ISI
A. Sarekat
Islam (Nasionalis – Religius)
1. Sejarah
Sarekat Islam
Sarekat
Dagang Islam merupakan cikal bakal dari Sarekat Islam, Sarekat Dagang Islam
didirikan pada 16 Oktober 1905 di Surakarta oleh Haji Samadhoedi ( Suryanegara,
2009 : 354). Sarekat Dagang Islam mengalami kemajuan pesat karena dapat
mengakomodasi kepentingan rakyat biasa. Rakyat di pedesaan mengganggap bahwa SI
sebagai alat untuk membela diri melawan struktur kekuasaan lokal dari pada
gerakan politik modern. Oleh sebab itu, organisasi ini menjadi lambang
persatuan bagi masyarakat yang tidak suka dengan orang-orang Cina,
pejabat-pejabat priyayi dan orang-orang Belanda (Ricklefs, 1991 : 253). Di
Solo, gerakan nasionalistis-demokratis- religius-ekonomis ini berdampak pada
permusuhan antara rakyat biasa dengan kaum pedagang Cina, sehingga sering
terjadi bentrok diantara mereka. Pemerintah Hindia Belanda semakin khawatir
dengan gerakan radikal ini karena berpotensi menjadi gerakan melawan
pemerintah. Hal ini menyebabkan Sarekat Dagang Islam pada tanggal 12 Agustus
1912 diskors oleh residen Surakarta dengan larangan untuk menerima anggota baru
dan larangan mengadakan rapat. Karena tidak ada bukti untuk melakukan gerakan
anti pemerintih maka tanggal 26 Agustus 1912 skors tersebut dicabut (Pringgodigdo,
1984: 4-5).
Atas
usul dari H.O.S Cokroaminoto pada tanggal 10 September 1912 Sarekat Dagang
Islam berubah menjadi Sarekat Islam. K.H Samanhudi diangkat sebagai ketua
Pengurus Besar SI yang pertama dan H.O.S Cokroaminoto sebagai komisaris.
Setelah menjadi SI sifat gerakan menjadi lebih luas karena tidak dibatasi
keanggotaannya pada kaum pedagang saja. Dalam Anggaran Dasar (statuten)
tertanggal 10 September 1912, tujuan perkumpulan ini diperluas ,antara lain:
1. Memajukan perdagangan
2. Memberi
pertolongan kepada anggota yang mengalami kesukaran (semacam usaha koperasi)
3. Memajukan
kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama
4. Memajukan
agama Islam serta menghilangkan faham- faham yang keliru tentang agama Islam
Program
yang baru tersebut masih mempertahankan tujuan lama yaitu dalam bidang
perdagangan namun tampak terlihat perluasan ruang gerak yang tidak membatasi
pada keanggotaan para pedagang tetapi terbuka bagi semua masyarakat. Tujuan
politik tidak tercantumkan karena pemerintah masih melarang adanya partai
politik. Perluasan keanggotaan tersebut menyebabkan dalam waktu relatif singkat
keanggotaan SI meningkat drastis. Gubernur Jenderal Idenburg dengan hati-hati
mendukung SI dan pada tahun 1913 Idenburg memberi pengakuan resmi kepada SI
meski banyak pejabat Hindia Belanda menentang kebijakannya. Namun pengakuan
tersebut sebatas suatu kumpulan cabang-cabang yang otonom, bukan sebagai
organisasi nasional yang dikendalikan oleh markas besarnya CSI /Central Sarekat
Islam ( Ricklefs, 1991: 253).
2. Perkembangan
dan Perpecahan Sarekat Islam
SI
mengadakan kongres I di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913. Konggres yang
dipimpin oleh H.O.S Cokroaminoto antara lain mejelaskan bahwa SI bukan sebagai
partai politik dan tidak beraksi untuk melakukan pergerakan secara radikal
melawan pemerintah Hindia Belanda. Meskipun demikian, asas Islam yang dijadikan
prinsip organisasi menjadikan SI sebagai simbol persatuan rakyat yang mayoritas
memeluk Islam serta adanya kemauan untuk mempertinggi martabat atau derajat
rakyat. Cabang-cabang SI telah tersebar di seluruh pulau Jawa dengan jumlah
anggota yang sangat banyak.
Kongres
SI II diadakan di Solo tahun 1914, yang memutuskan antara lain bahwa
keanggotaan SI terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia dan membatasi keanggotaan
dari golongan pagawai Pangreh Praja. Tindakan ini sebagai cara untuk memperkuat
identitas dan citra bahwa SI sebagai organisasi rakyat. Pemerintah Hindia
Belanda tidak suka melihat kekuatan SI yang begitu besar dan bersikap berani.
Untuk membatasi kekuatan SI, pemerintah menetapkan peraturan pada tanggal 30
Juni 1913 bahwa cabang-cabang SI harus bersikap otonom atau mandiri untuk
daerahnya masing-masing. Pada tahun 1915 SI mendirikan CSI (Central Sarekat
Islam) di Surabaya. Tujuan didirikannya CSI adalah dalam rangka memajukan dan
membantu SI di daerah serta mengadakan hubungan antara cabang-cabang SI.
Kongres
III SI diadakan di kota Bandung pada tanggal 17-24 Juni 1916. Konggres yang
dipimpin H.O.S Cokroaminoto tersebut bernama Kongres Nasional Sarekat Islam
pertama, yang dihadiri hampir 80 SI daerah. Dicantumkannya kata “nasional”
dalam kongres tersebut dimaksudkan, bahwa SI menuju kearah persatuan yang teguh
dan semua golongan atau tingkatan masyarakat merasa sebagai satu bangsa/
nation. Kongres Nasional SI kedua dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 20-27
Oktober 1917. Dalam kongres tersebut menyetujui bahwa CSI tetap dalam garis
parlementer-evolusioner meskipun lebih berani bersikap kritis terhadap pemerintah.
Pada tahun 1918, SI mengirimkan wakilnya ke Volksraad yaitu Abdul Muis(dipilih)
dan H.O.S Cokroaminoto (diangkat). Dalam sidang Volksraad, H.O.S Cokroaminoto
mengusulkan agar lembaga tersebut menuju pada status dan fungsi parlemen yang
sesungguhnya.
Pada
tahun 1914 tokoh sosialis, Semaun melakukan infiltrasi ke SI dengan cara masuk
menjadi anggota SI cabang Surabaya kemudian tahun 1916 ia pindah ke Semarang
dan bertemu dengan tokoh sosialis dari Belanda, Sneevliet yang menjadi pelopor
berdirinya ISDV. Pengaruh kiri di dalam SI semakin besar karena Semaun juga
aktif sebagai anggota ISDV (Indische Social- Democratishe Vereniging =
Perserikatan Sosial Demokrat Hindia Belanda) yang berusaha menjadikan rakyat
sebagai landasan perjuangan. SI cabang Semarang berkembang pesat dan dibawah
pengaruh Semaun, SI Semarang bersikap anti-kapitalis secara radikal.
Dengan
keberadaan wakil SI di Volksraad yaitu H.O.S Cokroaminoto dan Abdul Muis,
menunjukkan bahwa SI menempuh jalur ko-operative. Hal ini ditentang kaum kiri
dalam SI bahkan Semaun melakukan kritik keras terhadap kepimimpinan CSI (Central Sarekat Islam). SI
dibawah kepemimpinan Semaun dan Darsono mempelopori perjuangan SI melawan
imperalis secara radikal dengan menggunakan teori perjuangan Karl Marx atau
paham komunis. Akibat infiltrasi paham komunis di SI maka organisasi tersebut
terdapat dua aliran yaitu:
1. SI
Putih ,yang tetap mempertahankan dasar agama Islam dibawah pimpinan H.O.S
Cokroaminoto dan Agus Salim.
2. SI
Merah, yang bersifat ekonomis dogmatis dengan yang dipimpin Semaun dan Darsono
Pertentangan
antara dua aliran tersebut tidak mungkin disatukan sehingga SI menuju kearah
perpecahan. Dalam rangka membersihkan dari unsur-unsur komunis, SI mengambil
kebijakan tegas untuk menegakkan disiplin partai sehingga Semaun dan
kelompoknya dikeluarkan dari keanggotaan SI. SI Merah yang dipimpin Semaun
berubah namanya menjadi Sarekat Rakyat yang pada akhirnya menjadi organisasi
sayap dari PKI. Sementara itu,pada tahun 1923 CSI (Central Sarekat Islam)
merubah namanya menjadi PSI (Partai Sarekat Islam).
B. Indische
Partij (Organisasi Politik Murni)
Pada
tahun 1912 Indische Partij didirikan oleh Tiga Serangkai yakni dr. Cipto
Mangunkusumo, Dowes dekker, dan Ki Hajar Dewantara. Indische Partij merupakan
organisasi partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.
Tujuan IP adalah :
1. Menumbuhkan
dan meningkatkan jiwa persatuan dua golongan untuk memajukan tanah air dengan
dilandasi jiwa nasional.
2. Mempersiapkan
kehidupan rakyat yang merdeka.
3. Keanggotaan
Indische Partij terbuka untuk semua golongan tanpa membedakan tingkatan kelas
ataupun kasta. Golongan-golongan yang menjadi anggota Indische Partij
diantaranya golongan Bumiputera, golongan Indo, Cina dan Arab (Anshoriy, 2008 :
37-38).
Indiche
Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda. Melalui partai ini,
Ernest Douwes Dekker mendesak pemerintah untuk mengubah garis kebijaksanaan
yang ditempuh. Politik "Etis" yang dilaksanakan Belanda sejak awal
abad ke-20 dihantamnya. Seperti diketahui, garis "politik etis" itu
tidak lagi memperlakukan Hindia-Belanda sebagai daerah eksploitasi, sapi perahan
untuk kemakmuran negeri Belanda, tetapi dimaksudkan untuk meningkatkan
kehidupan masyarakat pribumi. Tulisan Ernest Douwes Dekker semakin radikal dan
dalam dekade kedua abad ke-20 masyarakat tanah jajahan diajak untuk
bergerak-Kameraden, stookt de vuren! (Kawan-kawan, nyalakanlah api!).
Gagasan-gagasan demikian yang muncul dalam pers Hindia-Belanda mendapat
perhatian bukan hanya di kalangan kaum Indo, tetapi juga di kalangan pribumi yang
sudah mendapat pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda, di antaranya Dr
Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Bersama kedua tokoh ini
Ernest Douwes Dekker mengadakan aksi antikolonial sehingga mereka sering
dianggap sebagai tiga serangkai. Dalam hubungan ini tiga serangkai memelopori
gerakan politik dengan resmi membentuk Indische Partij atau Partai Hindia. Asas
perjuangan Indiche Partij adalah nasionalisme dan kooperatif. Semboyannya
berbunyi : Indie los van Holland (Hindia bebas dari Holland) dan Indie voor
Inders (Hindia untuk orang Hindia).
Jiwa dinamis Douwes Dekker sudah diawali ketika ia
melakukan propaganda ke seluruh Jawa dari tanggal 15 September sampai dengan 3
Oktober 1912. Dalam perjalanan itu ia mengadakan rapat-rapat dengan elite lokal
di Yogya, Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan, dan
Cirebon. Douwes Dekker disambut hangat oleh pengurus BU di Yogya. Mereka diajak
untuk membangkitkan semangat golongan Indier
guna membangkitkan kekuatan politik
untuk menentang penjajah. Perjalanan itu menghasilkan tanggapan di kota – kota
yang dikunjunginya dan akhirnya dapat didirikan 30 cabang IP dengan anggota 730
orang. Sebagian besar dari mereka adalah orang Indo dan hanya sekitar 150 orang
Bumiputera ( Koch, 1951 : 45).
Para
pemimpin Indische Partij berusaha mendaftarkan status badan hukum dari Indische
Partij kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui sidang parlemen tetapi
pada tanggal 11 Maret 1913, penolakan dikeluarkan oleh Gubernur Jendral
Idenburg (wakil pemerintah Belanda di negara jajahan). Alasan penolakkanya
adalah karena organisasi ini dianggap oleh pemerintah kolonial pada saat itu
dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan
untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
Dalam
tindak-tanduknya ,ketiga tokoh pendiri partai ini sudah diperhatikan oleh
pemerintah Belanda. Tindakan-tindakan ini mulai nyata pada 21 Maret -23 Maret
1913 , ketika Belanda akan merayakan upacara peringatan 100 tahun kemerdekaan
Belanda dari Perancis (Napoleon) dengan menggunakan pungutan dana dari Hindia
Belanda. Melalui majalah De Express, Suwardi Suryaningrat menulis sebuah
artikel yang mengkritik pemerintah Belanda dengan judul "Als ik eens
Nederlander was" (Jika Aku Seorang Belanda). Berikut kutipannya
“………Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta
kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar
dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk
menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran
untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang
kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau
aku seorang Belanda, apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku
terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu
pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun . Seandainya aku
seorang Belanda, aku protes peringatan yang akan diadakan itu. Aku akan
peringatkan kawan-kawan penjajah ,bahwa sesungguhnya sangat berbahaya pada saat
itu mengadakan perayaan peringatan kemerdekaan. Aku akan peringatkan semua
bangsa Belanda jangan menyinggung peradaban bangsa Indonesia yang baru bangun
dan menjadi berani.Sungguh aku akan protes sekeras-kerasnya……..”Akibat dari
tindakan yang radikal melalui artikel tersebut ,pemerintah Belanda dibuat resah
dan pada tanggal 31 Maret 1913 , tiga serangkai diasingkan (diinternir). Douwes
Dekker dibuang ke Timor (Kupang).Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Banda sedangkan
Suwardi Suryaningrat dibuang ke Bangka. Tidak lama kemudian mereka dieksternir
(diasingkan) ke Belanda, namun pada tahun 1914 ,Cipto Mangunkusumo diizinkan
kembali karena masalah kesehatan. Pada tahun 1917 Douwes Dekker dibebaskan dari
hukuman dan Suwardi Suryaningrat pada tahun 1918 ,lalu kembali ke
Indonesia.Bersamaan dengan waktu pengasingan 3 serangkai dimulai, pemerintah
Hindia Belanda telah membubarkan Indische Partij. Partai ini sudah dilarang
karena sikapnya yang radikal untuk menuntut kemerdekaan ,namun perjuangan masih
terus berlanjut.
Usia
Indische Partij pendek (tidak lebih dari enam bulan) namun bagaikan “sebuah
tornado yang melanda jawa”. Oleh penerusnya setelah IP dibubarkan dan
pimpinannya dibuang kemudian organisasi ini bernama Insulinde, namun organisasi
ini tidak mendapat sambutan masyarakat luas meskipun pada tahun 1919 diganti
namanya menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Kenyataan tidak dapat ditolak
bahwa orang Indo masih merasa mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada
Bumiputera. Perasaan lebih tinggi di kalangan Indo ini menyebabkan mereka
banyak yang keluar dan menggabungkan diri dalam Indo Europeesch Verbond (IEV)
yang didirikan pada tahun 1919 (Suhartono, 1994 : 42).
KESIMPULAN
Sarekat
Islam mula-mula awalnya adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh
KH. Samanhudi pada tahun 1905 M di Solo. Namun ada yang mengatakan bahwa SDI
mula-mula didirikan pada tahun 1911 M. Berdirinya organisasi ini di latar
belakangi dengan persoalan ekonomi, lalu merambah ke persoalan lain dengan
dipimpinnya SI oleh HOS. Tjokroaminoto. Indische Partij berdiri atas dasar
nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai
national home bagi semua orang, baik penduduk bumi putra maupun keturunan
Belanda, Cina, Arab yang mengakui Indonesia sebagi Tanah Air dan Kebangsaannya.
Indische Partij merupakan organisasi pergerakan nasional yang bersifat politik
murni dengan semangat nasionalisme modern. Fokus politik ini adalah edukasi-
irigasi-transmigrasi-desentralisasi. organisasi-organisasi ini pasti mengalami
kepasang surutan dalam berkiprah, periode pertama menentukan corak dan bentuk
bagi partai tersebut sendiri, periode kedua mengalami masa puncak, periode
ketiga mengalami konsolidasi, dan periode keempat berusaha mempertahankan
eksistensinya di forum politik Indonesia. Berdirinya organisasi Sarekat Islam
dan Indische partij telah memberi warna baru bagi organisasi pergerakan
nasional yakni adanya semangat nasionalisme yang mendalam untuk memperjuangkan
nasib rakyat Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
Anshoriy, Nasruddin, dkk. 2008. Rekam Jejak Dokter Pejuang dan Pelopor
Kebangkitan Nasional. Yogyakarta: LKIS.
Koch,
D.M.G. 1951. Menuju Kemerdekaan.
Jakarta: Pembangunan.
Nugroho
Notosusanto. 1975. Sejarah Nasional
Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.
Pringgodigdo,
A.K. 1984. Sejarah Pergerakan Rakyat
Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.
Ricklefs,
M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern.
Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Suhartono.
1994. Sejarah Pergerakan Nasional.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryanegara,
Ahmad Mansur. 2009. Api Sejarah.
Bandung : Salamadina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar