Sunset Mt. Merbabu

Sunset Mt. Merbabu

Kamis, 17 Juli 2014

SAREKAT ISLAM (NASIONALIS - RELIGIUS) DAN INDISCHE PARTIJ ( ORGANISASI POLITIK MURNI)




SAREKAT ISLAM (NASIONALIS - RELIGIUS) DAN INDISCHE PARTIJ ( ORGANISASI POLITIK MURNI)

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pergerakan Nasional
Dosen Pengampu :
Insan Fahmi Siregar

Oleh:

                                    Nama            : Retno Yuni Dewanti
                                    NIM              : 3111412018
                                    Rombel          : Ilmu Sejarah




JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
PENDAHULUAN
Pergolakan masyarakat sebagai akibat perubahan sosial yang cepat membangkitkan kesadaran kaum pribumi yang bermula secara perorangan kemudian meluas di kalangan rakyat pribumi. Tiga tahun setelah berdirinya Budi Utomo, pada tahun 1911 berdirilah organisasi yang disebut Sarekat Islam. Latar belakang ekonomis perkumpulan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi pedagang (pedagang penyalur) orang-orang Cina. Para pendiri Sarekat Islam tidak semata-mata mengadakan perlawanan terhadap pedagang Cina, tetapi juga sebagai front melawan semua penghinaan terhadap rakyat pribumi serta reaksi adanya politik kristenisasi dari kaum zending (Nugroho Notosusanto, 1975 : 187). Selain itu ada juga organisasi politik pertama yaitu Indische Partij yang berdiri di Bandung pada tanggal 25 Desmber 1912. Organisasi ini dimaksudkan sebagai pengganti organisasi Indische Bond, sebagai organisasi kaum Indo dan Eropa di Indonesia yang didirikan pada tahun 1898. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih dalam mengenai Sarekat Islam dan Indische Partij sebagai organisasi Pergerakan nasional.













ISI

A.   Sarekat Islam (Nasionalis – Religius)
1.     Sejarah Sarekat Islam
Sarekat Dagang Islam merupakan cikal bakal dari Sarekat Islam, Sarekat Dagang Islam didirikan pada 16 Oktober 1905 di Surakarta oleh Haji Samadhoedi ( Suryanegara, 2009 : 354). Sarekat Dagang Islam mengalami kemajuan pesat karena dapat mengakomodasi kepentingan rakyat biasa. Rakyat di pedesaan mengganggap bahwa SI sebagai alat untuk membela diri melawan struktur kekuasaan lokal dari pada gerakan politik modern. Oleh sebab itu, organisasi ini menjadi lambang persatuan bagi masyarakat yang tidak suka dengan orang-orang Cina, pejabat-pejabat priyayi dan orang-orang Belanda (Ricklefs, 1991 : 253). Di Solo, gerakan nasionalistis-demokratis- religius-ekonomis ini berdampak pada permusuhan antara rakyat biasa dengan kaum pedagang Cina, sehingga sering terjadi bentrok diantara mereka. Pemerintah Hindia Belanda semakin khawatir dengan gerakan radikal ini karena berpotensi menjadi gerakan melawan pemerintah. Hal ini menyebabkan Sarekat Dagang Islam pada tanggal 12 Agustus 1912 diskors oleh residen Surakarta dengan larangan untuk menerima anggota baru dan larangan mengadakan rapat. Karena tidak ada bukti untuk melakukan gerakan anti pemerintih maka tanggal 26 Agustus 1912 skors tersebut dicabut (Pringgodigdo, 1984: 4-5).
Atas usul dari H.O.S Cokroaminoto pada tanggal 10 September 1912 Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam. K.H Samanhudi diangkat sebagai ketua Pengurus Besar SI yang pertama dan H.O.S Cokroaminoto sebagai komisaris. Setelah menjadi SI sifat gerakan menjadi lebih luas karena tidak dibatasi keanggotaannya pada kaum pedagang saja. Dalam Anggaran Dasar (statuten) tertanggal 10 September 1912, tujuan perkumpulan ini diperluas ,antara lain:
1.      Memajukan perdagangan
2.     Memberi pertolongan kepada anggota yang mengalami kesukaran (semacam usaha koperasi)
3.     Memajukan kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama
4.     Memajukan agama Islam serta menghilangkan faham- faham yang keliru tentang agama Islam
Program yang baru tersebut masih mempertahankan tujuan lama yaitu dalam bidang perdagangan namun tampak terlihat perluasan ruang gerak yang tidak membatasi pada keanggotaan para pedagang tetapi terbuka bagi semua masyarakat. Tujuan politik tidak tercantumkan karena pemerintah masih melarang adanya partai politik. Perluasan keanggotaan tersebut menyebabkan dalam waktu relatif singkat keanggotaan SI meningkat drastis. Gubernur Jenderal Idenburg dengan hati-hati mendukung SI dan pada tahun 1913 Idenburg memberi pengakuan resmi kepada SI meski banyak pejabat Hindia Belanda menentang kebijakannya. Namun pengakuan tersebut sebatas suatu kumpulan cabang-cabang yang otonom, bukan sebagai organisasi nasional yang dikendalikan oleh markas besarnya CSI /Central Sarekat Islam ( Ricklefs, 1991: 253).  
2.     Perkembangan dan Perpecahan Sarekat Islam
SI mengadakan kongres I di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913. Konggres yang dipimpin oleh H.O.S Cokroaminoto antara lain mejelaskan bahwa SI bukan sebagai partai politik dan tidak beraksi untuk melakukan pergerakan secara radikal melawan pemerintah Hindia Belanda. Meskipun demikian, asas Islam yang dijadikan prinsip organisasi menjadikan SI sebagai simbol persatuan rakyat yang mayoritas memeluk Islam serta adanya kemauan untuk mempertinggi martabat atau derajat rakyat. Cabang-cabang SI telah tersebar di seluruh pulau Jawa dengan jumlah anggota yang sangat banyak.
Kongres SI II diadakan di Solo tahun 1914, yang memutuskan antara lain bahwa keanggotaan SI terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia dan membatasi keanggotaan dari golongan pagawai Pangreh Praja. Tindakan ini sebagai cara untuk memperkuat identitas dan citra bahwa SI sebagai organisasi rakyat. Pemerintah Hindia Belanda tidak suka melihat kekuatan SI yang begitu besar dan bersikap berani. Untuk membatasi kekuatan SI, pemerintah menetapkan peraturan pada tanggal 30 Juni 1913 bahwa cabang-cabang SI harus bersikap otonom atau mandiri untuk daerahnya masing-masing. Pada    tahun 1915 SI mendirikan CSI (Central Sarekat Islam) di Surabaya. Tujuan didirikannya CSI adalah dalam rangka memajukan dan membantu SI di daerah serta mengadakan hubungan antara cabang-cabang SI.
Kongres III SI diadakan di kota Bandung pada tanggal 17-24 Juni 1916. Konggres yang dipimpin H.O.S Cokroaminoto tersebut bernama Kongres Nasional Sarekat Islam pertama, yang dihadiri hampir 80 SI daerah. Dicantumkannya kata “nasional” dalam kongres tersebut dimaksudkan, bahwa SI menuju kearah persatuan yang teguh dan semua golongan atau tingkatan masyarakat merasa sebagai satu bangsa/ nation. Kongres Nasional SI kedua dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 20-27 Oktober 1917. Dalam kongres tersebut menyetujui bahwa CSI tetap dalam garis parlementer-evolusioner meskipun lebih berani bersikap kritis terhadap pemerintah. Pada tahun 1918, SI mengirimkan wakilnya ke Volksraad yaitu Abdul Muis(dipilih) dan H.O.S Cokroaminoto (diangkat). Dalam sidang Volksraad, H.O.S Cokroaminoto mengusulkan agar lembaga tersebut menuju pada status dan fungsi parlemen yang sesungguhnya.
Pada tahun 1914 tokoh sosialis, Semaun melakukan infiltrasi ke SI dengan cara masuk menjadi anggota SI cabang Surabaya kemudian tahun 1916 ia pindah ke Semarang dan bertemu dengan tokoh sosialis dari Belanda, Sneevliet yang menjadi pelopor berdirinya ISDV. Pengaruh kiri di dalam SI semakin besar karena Semaun juga aktif sebagai anggota ISDV (Indische Social- Democratishe Vereniging = Perserikatan Sosial Demokrat Hindia Belanda) yang berusaha menjadikan rakyat sebagai landasan perjuangan. SI cabang Semarang berkembang pesat dan dibawah pengaruh Semaun, SI Semarang bersikap anti-kapitalis secara radikal.
Dengan keberadaan wakil SI di Volksraad yaitu H.O.S Cokroaminoto dan Abdul Muis, menunjukkan bahwa SI menempuh jalur ko-operative. Hal ini ditentang kaum kiri dalam SI bahkan Semaun melakukan kritik keras terhadap  kepimimpinan CSI (Central Sarekat Islam). SI dibawah kepemimpinan Semaun dan Darsono mempelopori perjuangan SI melawan imperalis secara radikal dengan menggunakan teori perjuangan Karl Marx atau paham komunis. Akibat infiltrasi paham komunis di SI maka organisasi tersebut terdapat dua aliran yaitu:
1.     SI Putih ,yang tetap mempertahankan dasar agama Islam dibawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto dan Agus Salim.
2.     SI Merah, yang bersifat ekonomis dogmatis dengan yang dipimpin Semaun dan Darsono
Pertentangan antara dua aliran tersebut tidak mungkin disatukan sehingga SI menuju kearah perpecahan. Dalam rangka membersihkan dari unsur-unsur komunis, SI mengambil kebijakan tegas untuk menegakkan disiplin partai sehingga Semaun dan kelompoknya dikeluarkan dari keanggotaan SI. SI Merah yang dipimpin Semaun berubah namanya menjadi Sarekat Rakyat yang pada akhirnya menjadi organisasi sayap dari PKI. Sementara itu,pada tahun 1923 CSI (Central Sarekat Islam) merubah namanya menjadi PSI (Partai Sarekat Islam).
B.   Indische Partij (Organisasi Politik Murni)
Pada tahun 1912 Indische Partij didirikan oleh Tiga Serangkai yakni dr. Cipto Mangunkusumo, Dowes dekker, dan Ki Hajar Dewantara. Indische Partij merupakan organisasi partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka. Tujuan IP adalah :
1.     Menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan dua golongan untuk memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa nasional.
2.     Mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.
3.     Keanggotaan Indische Partij terbuka untuk semua golongan tanpa membedakan tingkatan kelas ataupun kasta. Golongan-golongan yang menjadi anggota Indische Partij diantaranya golongan Bumiputera, golongan Indo, Cina dan Arab (Anshoriy, 2008 : 37-38).
Indiche Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda. Melalui partai ini, Ernest Douwes Dekker mendesak pemerintah untuk mengubah garis kebijaksanaan yang ditempuh. Politik "Etis" yang dilaksanakan Belanda sejak awal abad ke-20 dihantamnya. Seperti diketahui, garis "politik etis" itu tidak lagi memperlakukan Hindia-Belanda sebagai daerah eksploitasi, sapi perahan untuk kemakmuran negeri Belanda, tetapi dimaksudkan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat pribumi. Tulisan Ernest Douwes Dekker semakin radikal dan dalam dekade kedua abad ke-20 masyarakat tanah jajahan diajak untuk bergerak-Kameraden, stookt de vuren! (Kawan-kawan, nyalakanlah api!). Gagasan-gagasan demikian yang muncul dalam pers Hindia-Belanda mendapat perhatian bukan hanya di kalangan kaum Indo, tetapi juga di kalangan pribumi yang sudah mendapat pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda, di antaranya Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Bersama kedua tokoh ini Ernest Douwes Dekker mengadakan aksi antikolonial sehingga mereka sering dianggap sebagai tiga serangkai. Dalam hubungan ini tiga serangkai memelopori gerakan politik dengan resmi membentuk Indische Partij atau Partai Hindia. Asas perjuangan Indiche Partij adalah nasionalisme dan kooperatif. Semboyannya berbunyi : Indie los van Holland (Hindia bebas dari Holland) dan Indie voor Inders (Hindia untuk orang Hindia).
Jiwa  dinamis Douwes Dekker sudah diawali ketika ia melakukan propaganda ke seluruh Jawa dari tanggal 15 September sampai dengan 3 Oktober 1912. Dalam perjalanan itu ia mengadakan rapat-rapat dengan elite lokal di Yogya, Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Cirebon. Douwes Dekker disambut hangat oleh pengurus BU di Yogya. Mereka diajak untuk membangkitkan semangat golongan Indier  guna membangkitkan kekuatan politik untuk menentang penjajah. Perjalanan itu menghasilkan tanggapan di kota – kota yang dikunjunginya dan akhirnya dapat didirikan 30 cabang IP dengan anggota 730 orang. Sebagian besar dari mereka adalah orang Indo dan hanya sekitar 150 orang Bumiputera ( Koch, 1951 : 45).
Para pemimpin Indische Partij berusaha mendaftarkan status badan hukum dari Indische Partij kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui sidang parlemen tetapi pada tanggal 11 Maret 1913, penolakan dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg (wakil pemerintah Belanda di negara jajahan). Alasan penolakkanya adalah karena organisasi ini dianggap oleh pemerintah kolonial pada saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
Dalam tindak-tanduknya ,ketiga tokoh pendiri partai ini sudah diperhatikan oleh pemerintah Belanda. Tindakan-tindakan ini mulai nyata pada 21 Maret -23 Maret 1913 , ketika Belanda akan merayakan upacara peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis (Napoleon) dengan menggunakan pungutan dana dari Hindia Belanda. Melalui majalah De Express, Suwardi Suryaningrat menulis sebuah artikel yang mengkritik pemerintah Belanda dengan judul "Als ik eens Nederlander was" (Jika Aku Seorang Belanda). Berikut kutipannya “………Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun . Seandainya aku seorang Belanda, aku protes peringatan yang akan diadakan itu. Aku akan peringatkan kawan-kawan penjajah ,bahwa sesungguhnya sangat berbahaya pada saat itu mengadakan perayaan peringatan kemerdekaan. Aku akan peringatkan semua bangsa Belanda jangan menyinggung peradaban bangsa Indonesia yang baru bangun dan menjadi berani.Sungguh aku akan protes sekeras-kerasnya……..”Akibat dari tindakan yang radikal melalui artikel tersebut ,pemerintah Belanda dibuat resah dan pada tanggal 31 Maret 1913 , tiga serangkai diasingkan (diinternir). Douwes Dekker dibuang ke Timor (Kupang).Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Banda sedangkan Suwardi Suryaningrat dibuang ke Bangka. Tidak lama kemudian mereka dieksternir (diasingkan) ke Belanda, namun pada tahun 1914 ,Cipto Mangunkusumo diizinkan kembali karena masalah kesehatan. Pada tahun 1917 Douwes Dekker dibebaskan dari hukuman dan Suwardi Suryaningrat pada tahun 1918 ,lalu kembali ke Indonesia.Bersamaan dengan waktu pengasingan 3 serangkai dimulai, pemerintah Hindia Belanda telah membubarkan Indische Partij. Partai ini sudah dilarang karena sikapnya yang radikal untuk menuntut kemerdekaan ,namun perjuangan masih terus berlanjut.
Usia Indische Partij pendek (tidak lebih dari enam bulan) namun bagaikan “sebuah tornado yang melanda jawa”. Oleh penerusnya setelah IP dibubarkan dan pimpinannya dibuang kemudian organisasi ini bernama Insulinde, namun organisasi ini tidak mendapat sambutan masyarakat luas meskipun pada tahun 1919 diganti namanya menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Kenyataan tidak dapat ditolak bahwa orang Indo masih merasa mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Bumiputera. Perasaan lebih tinggi di kalangan Indo ini menyebabkan mereka banyak yang keluar dan menggabungkan diri dalam Indo Europeesch Verbond (IEV) yang didirikan pada tahun 1919 (Suhartono, 1994 : 42).









KESIMPULAN
Sarekat Islam mula-mula awalnya adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh KH. Samanhudi pada tahun 1905 M di Solo. Namun ada yang mengatakan bahwa SDI mula-mula didirikan pada tahun 1911 M. Berdirinya organisasi ini di latar belakangi dengan persoalan ekonomi, lalu merambah ke persoalan lain dengan dipimpinnya SI oleh HOS. Tjokroaminoto. Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia dianggap sebagai national home bagi semua orang, baik penduduk bumi putra maupun keturunan Belanda, Cina, Arab yang mengakui Indonesia sebagi Tanah Air dan Kebangsaannya. Indische Partij merupakan organisasi pergerakan nasional yang bersifat politik murni dengan semangat nasionalisme modern. Fokus politik ini adalah edukasi- irigasi-transmigrasi-desentralisasi. organisasi-organisasi ini pasti mengalami kepasang surutan dalam berkiprah, periode pertama menentukan corak dan bentuk bagi partai tersebut sendiri, periode kedua mengalami masa puncak, periode ketiga mengalami konsolidasi, dan periode keempat berusaha mempertahankan eksistensinya di forum politik Indonesia. Berdirinya organisasi Sarekat Islam dan Indische partij telah memberi warna baru bagi organisasi pergerakan nasional yakni adanya semangat nasionalisme yang mendalam untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia











DAFTAR PUSTAKA

Anshoriy, Nasruddin, dkk. 2008. Rekam Jejak Dokter Pejuang dan Pelopor Kebangkitan Nasional. Yogyakarta: LKIS.
Koch, D.M.G. 1951. Menuju Kemerdekaan. Jakarta: Pembangunan.
Nugroho Notosusanto. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.
Pringgodigdo, A.K. 1984. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.
Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.
Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryanegara, Ahmad Mansur. 2009. Api Sejarah. Bandung : Salamadina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar